Kendati proyeksi baru menunjukkan kecenderungan menuju kenaikan suku bunga berikutnya, BOJ tidak memberikan petunjuk jelas terkait waktunya. Pejabat bank sentral kemungkinan masih menunggu waktu untuk menilai bagaimana tarif AS akan memengaruhi perekonomian Jepang dan perdagangan global, meskipun kesepakatan dagang telah dicapai antara kedua negara.
“Revisi kenaikan terhadap proyeksi harga oleh BOJ membuat kemungkinan kenaikan suku bunga terlihat semakin dekat,” ujar Hiroki Shimazu, kepala strategi di MCP Asset Management. “Namun dalam laporan terkini, bank juga menyebut adanya perlambatan yang diperkirakan. Pertanyaannya adalah apakah Gubernur Ueda akan menyampaikan dalam konferensi pers bahwa BOJ tidak akan menaikkan suku bunga selama ekonomi masih melambat.”
Isu ini menjadi perhatian pasar, dengan nilai tukar yen mendekati level terlemah sejak awal April dan nyaris menyentuh batas psikologis 150 yen per dolar. Di sisi lain, imbal hasil obligasi cenderung naik dalam beberapa bulan terakhir, bahkan turut memengaruhi pergerakan di pasar global.
Pertemuan BOJ ini berlangsung hanya beberapa jam setelah bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) juga menahan suku bunga acuannya dan Gubernur The Fed Jerome Powell meredam ekspektasi penurunan suku bunga pada bulan September.
“Keputusan BOJ untuk tidak mengubah suku bunga sejalan dengan pandangan kami bahwa bank sentral tengah mengambil sikap hati-hati sambil menilai dampak tarif AS terhadap ekspor Jepang. BOJ tampaknya juga ingin menghindari gejolak politik dengan menaikkan biaya pinjaman di saat pemerintah Jepang sendiri tengah tertekan usai kekalahan di pemilu majelis tinggi,” kata Taro Kimura, ekonom di Bloomberg Economics.
BOJ juga mengubah penilaiannya terkait keseimbangan risiko inflasi dengan menyatakan bahwa risikonya kini "secara umum seimbang", tanpa merinci tahun mana yang dimaksud. Dalam laporan tiga bulan sebelumnya, risiko penurunan inflasi masih disebut hanya untuk tahun fiskal 2025 dan 2026. Ini menjadi sinyal lain bahwa dewan mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga di masa mendatang.
Bank sentral Jepang juga melunakkan bahasa terkait ketidakpastian perdagangan dalam ringkasan laporannya, menyatakan bahwa ketidakpastian kini tidak lagi “sangat tinggi”, dan kembali menegaskan niat untuk menaikkan suku bunga bila kondisi memungkinkan.
“Telah terjadi perkembangan positif dalam kebijakan perdagangan dan lainnya, seperti hasil negosiasi antara Jepang dan Amerika Serikat yang membuahkan kesepakatan,” tulis laporan tersebut. “Meski begitu, ketidakpastian yang tinggi masih menyelimuti proses negosiasi antarnegara serta dampak kebijakan perdagangan terhadap aktivitas ekonomi dan harga, baik di dalam negeri maupun secara global.”
Sebelumnya, The Fed juga menahan suku bunga acuannya. Powell menekankan adanya “banyak sekali ketidakpastian” yang menjadi penghambat keputusan, sementara dua anggota dewan gubernur, Christopher Waller dan Michelle Bowman, berbeda pandangan dengan memilih opsi pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Pemerintah Jepang mencapai kesepakatan dagang dengan AS pada 22 Juli, yang menurunkan tarif untuk impor mobil Jepang dan sebagian besar barang lainnya dari AS menjadi 15%. Kesepakatan ini mengurangi salah satu sumber utama ketidakpastian bagi para pembuat kebijakan, memungkinkan mereka kini fokus menilai dampak dari tarif tersebut.
Selama tidak ada perubahan terhadap kebijakan tarif, para pejabat BOJ memperkirakan mereka akan memiliki cukup data paling lambat pada akhir tahun untuk mempertimbangkan apakah kenaikan suku bunga diperlukan, menurut sumber Bloomberg yang mengetahui hal tersebut.
Kenaikan proyeksi inflasi ini terjadi di tengah tingginya biaya hidup di Jepang, yang menjadikannya salah satu negara dengan inflasi tertinggi di kelompok G-7. Kenaikan harga makanan, terutama beras, menjadi pendorong utama dan memaksa BOJ untuk meninjau dampaknya terhadap tren inflasi yang mendasar.
Gubernur Kazuo Ueda mempertahankan pendekatan bertahap dalam menaikkan suku bunga, dengan alasan bahwa tren harga secara keseluruhan masih sedikit di bawah target 2% BOJ berdasarkan analisis komprehensif. Namun sejumlah pengamat, termasuk mantan kepala ekonom BOJ Hideo Hayakawa, menolak pandangan ini dan berargumen bahwa tekanan inflasi sudah cukup kuat.
Ueda dijadwalkan menggelar konferensi pers pada pukul 15.30 waktu setempat. Pelaku pasar akan mencermati setiap pernyataan Ueda untuk menilai seberapa kuat inflasi saat ini dan sejauh mana ia terdorong oleh hasil kesepakatan dagang AS-Jepang.
“Selama pertumbuhan ekonomi tidak meleset jauh dari proyeksi, saya memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga lagi pada akhir tahun,” kata Harumi Taguchi, ekonom utama di S&P Global Market Intelligence. “BOJ ingin menilai bagaimana dampak tarif terhadap keuntungan korporasi Jepang, serta tren investasi dan kenaikan upah. Saya pikir keputusan akan diambil pada bulan Desember.”
(bbn)





























