Menurut dokumen strategi yang dirilis oleh Kementerian Bisnis, Inovasi, dan Ketenagakerjaan, Selandia Baru merupakan negara kelima terbesar di dunia dalam produksi listrik panas bumi dan telah membangun pembangkit panas bumi kedua di dunia sejak akhir 1950-an.
Kendati, perusahaan seperti Contact Energy Ltd. dan Mercury NZ telah membangun pembangkit baru, pengembangan industri secara keseluruhan dinilai masih terfragmentasi.
Eksplorasi di berbagai wilayah potensial pun stagnan, sehingga dibutuhkan arah baru yang lebih terstruktur, menurut kementerian tersebut.
Pemerintah ingin meningkatkan porsi pembangkitan listrik dari sumber terbarukan seperti uap panas bumi, tenaga air, dan angin guna mengurangi ketergantungan terhadap PLTU batu bara dan gas.
Permintaan listrik domestik diproyeksikan melonjak 68% dalam 15 tahun mendatang, yang mendorong perlunya investasi tambahan, termasuk di sektor panas bumi.
Selain untuk listrik, energi panas bumi juga akan didorong penggunaannya secara langsung untuk sektor industri, komersial, dan pertanian guna menggantikan ketel uap berbasis batu bara yang saat ini masih digunakan.
Jones juga menyampaikan niat pemerintah untuk mendorong pengembangan teknologi eksplorasi cairan panas bumi superkritis—yang berada di kedalaman lebih tinggi dan menyimpan energi lebih besar dibanding sumber saat ini.
Selain itu, potensi ekstraksi mineral dari fluida panas bumi serta pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang dapat diekspor ke negara lain juga akan dijajaki.
Dalam tahap awal, pemerintah akan fokus memperkuat kerangka regulasi dan membuka akses data eksplorasi bagi para pengembang, termasuk komunitas adat Māori yang memiliki lahan di atas sumber panas bumi.
Ke depannya, peluang keterlibatan pemerintah dalam kegiatan eksplorasi tambahan juga akan dipertimbangkan, menurut dokumen strategi tersebut.
(bbn)
































