Logo Bloomberg Technoz

“Asia Tenggara masih tertinggal dalam pengembangan energi terbarukan, dan karena itu, sektor ini menyimpan potensi yang sangat besar,” kata Agrawal dalam wawancara.

Agrawal menambahkan kombinasi antara daya saing biaya, pembiayaan swasta, dan dukungan pemerintah mendorong percepatan industri ini.

Dalam beberapa tahun ke depan, investasi energi bersih di Asia Tenggara diperkirakan meningkat sepuluh kali lipat dari sekitar USD2 miliar saat ini, kata Agrawal.

Suntikan modal dari Actis terjadi di tengah lonjakan investasi energi terbarukan di Asia Tenggara.

Sepanjang 2024, perusahaan energi bersih berhasil menggalang dana pembiayaan aset senilai US$8 miliar — naik 30% dibandingkan tahun sebelumnya — dengan proyek-proyek terbesar berada di Filipina dan Malaysia, menurut data BloombergNEF.

Meski begitu, total belanja Asia Tenggara masih jauh tertinggal dibandingkan negara besar seperti China, yang mencatat investasi energi bersih sebesar USD818 miliar tahun ini — lebih dari dua kali lipat dari negara manapun.

Actis, yang tahun lalu diakuisisi oleh perusahaan ekuitas swasta asal AS General Atlantic Co LP, kini mengelola aset gabungan senilai USD108 miliar.

Perusahaan ini menjadi salah satu dari makin banyak investor global yang mengincar potensi energi terbarukan di Asia Tenggara.

(bbn)

No more pages