Logo Bloomberg Technoz

“Kami datang ke pertemuan ini dengan posisi yang kuat, setelah mencapai kesepakatan dengan UE, Jepang, dan banyak negara lain,” ujar Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, dalam wawancara dengan MSNBC, Senin, sebelum tiba di lokasi bersama Bessent. “Fakta bahwa kami secara rutin bertemu untuk membahas isu-isu ini memberikan pijakan yang baik bagi negosiasi.”

Berbicara di Skotlandia pada Minggu dalam pengumuman kesepakatan dengan UE, Trump menyampaikan pembaruan singkat mengenai hubungan AS dengan Beijing. “Kami sangat dekat dengan kesepakatan dengan China. Sebenarnya kami sudah hampir mencapai kesepakatan, tapi kita lihat saja nanti,” ujarnya tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Bessent dalam beberapa hari terakhir mengatakan bahwa pertemuan minggu ini akan digunakan untuk merumuskan apa yang “kemungkinan besar merupakan perpanjangan” dari gencatan tarif saat ini. Ia menambahkan, “Saya rasa hubungan dagang dengan China berada di tempat yang cukup baik.”

Setiap terobosan dalam pembicaraan ini bisa menjadi jalan bagi Trump untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping, kemungkinan dalam sebuah KTT besar akhir tahun ini di Korea Selatan. Xi sempat mengundang Trump dan Ibu Negara Melania Trump untuk berkunjung ke China dalam percakapan telepon bulan lalu, namun belum ada jadwal resmi yang ditetapkan.

Kontrol Ekspor

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick tidak hadir dalam pembukaan pembicaraan di Stockholm, menurut dua sumber yang mengetahui hal ini, meskipun sebelumnya ia menyatakan kepada Bloomberg TV bahwa ia berencana hadir.

Lutnick sempat hadir dalam pertemuan di London pada bulan Juni, di mana untuk pertama kalinya isu kontrol ekspor dimasukkan dalam agenda pembicaraan dagang—langkah yang sebelumnya dianggap tabu karena terkait keamanan nasional.

Lutnick mendukung pelonggaran pembatasan AS atas chip Nvidia seri H20—kebijakan yang telah disetujui Trump awal bulan ini. Ia juga mendorong tercapainya kesepakatan dagang dengan Beijing yang tidak menyentuh isu-isu sistemik dalam hubungan bilateral, menurut sumber internal.

Dalam unggahan media sosial pekan lalu, Menteri Keuangan Swedia Elisabeth Svantesson memberikan gambaran soal dinamika pertemuan ini. Ia menulis bahwa perwakilan dari AS dan China mendekatinya dalam pertemuan G-20 di Afrika Selatan awal bulan ini dan mengusulkan Swedia sebagai lokasi negosiasi tarif.

Inti tarik-menarik dalam perundingan antara dua ekonomi terbesar dunia ini adalah dominasi China atas magnet tanah jarang—komponen penting dalam kendaraan listrik hingga senjata canggih—dan pembatasan AS terhadap chip mutakhir yang krusial bagi kecerdasan buatan. Persaingan dalam kebijakan ekspor kini menjadi komponen penting dalam pembicaraan dagang.

Salah satu prioritas utama bagi Beijing adalah pengurangan tarif 20% yang diberlakukan Trump terkait tuduhan bahwa perusahaan-perusahaan China menyuplai bahan kimia untuk memproduksi fentanil ilegal, menurut analis Eurasia Group dalam sebuah catatan pekan lalu. Para pejabat Kementerian Keamanan Publik China sempat hadir dalam pembicaraan di Jenewa pada Mei lalu, dan diperkirakan akan kembali hadir di Stockholm.

Meski China membantah bertanggung jawab atas peredaran obat mematikan itu, bulan lalu mereka memperketat pengawasan terhadap dua bahan kimia yang bisa digunakan untuk memproduksi opioid tersebut. Awal bulan ini, Trump memuji langkah itu. “China sudah membantu,” katanya kepada wartawan. “Kami sedang berdialog dan mereka mulai mengambil langkah besar.”

Namun bagi AS, langkah China tersebut belum cukup, karena kebijakan itu sejatinya merupakan bagian dari kewajiban dalam kerangka PBB, menurut sumber yang akrab dengan isi pembicaraan.

Kemungkinan pengurangan tarif fentanil dalam putaran ini sangat kecil, imbuh sumber tersebut yang enggan disebutkan namanya karena isu yang sensitif, meski ia mengakui semuanya bisa berubah sesuai kehendak Trump.

Menurut Sun Chenghao, profesor di Universitas Tsinghua, Beijing bersedia bekerja sama lebih jauh terkait isu fentanil, namun AS harus mencabut tarif yang terkait, berhenti menyalahkan China atas masalah domestik AS, dan memberikan bukti konkret atas dugaan pelanggaran.

Komunitas bisnis AS masih menyimpan harapan. Presiden US-China Business Council, Sean Stein, mengatakan kepada Bloomberg TV bahwa isu fentanil menawarkan peluang terbesar dalam pembicaraan.

“Kalau hal itu bisa dibuka, tarif AS bisa turun. Ini akan membuka jalan bagi China menurunkan tarif mereka sehingga kami bisa menjual produk pertanian, pesawat, mobil, hingga energi,” ujarnya.

Pembelian Minyak

Dalam pengumumannya terkait dimulainya pembicaraan, Bessent menyatakan negosiasi kali ini bisa mencakup isu yang lebih luas, termasuk pembelian minyak China dari Rusia dan Iran yang Sedang dikenai sanksi.

Media pemerintah China sudah memberikan sinyal penolakan. “China tidak akan bermain-main” dengan upaya yang bertujuan menjatuhkan ekonomi Rusia melalui Beijing, ujar Lv Xiang dari Chinese Academy of Social Sciences kepada tabloid Global Times pekan lalu.

Sebaliknya, impor tiga komoditas energi utama China dari AS mencapai titik nol pada bulan Juni. Ini pertama kalinya dalam hampir tiga tahun China tidak mengimpor minyak mentah dari rival utamanya itu. Pengiriman minyak mentah, gas alam cair, dan batu bara dari AS telah dikenai tarif antara 10% hingga 15% oleh Tiongkok sejak Februari.

Namun sejak pertemuan terakhir di London bulan lalu, pemerintah Xi mulai melonggarkan sejumlah tindakan balasan. Salah satu langkah penting adalah peningkatan ekspor magnet tanah jarang dari China, sementara AS mulai melonggarkan pembatasan atas penjualan chip semikonduktor yang kurang canggih.

Sebagai isyarat itikad baik lainnya, saat pembicaraan di Swedia diumumkan bulan ini, China juga menghentikan penyelidikan antimonopoli terhadap unit lokal perusahaan kimia asal AS, DuPont de Nemours Inc.

Kapasitas manufaktur China yang luar biasa besar juga menjadi perhatian tim Trump.

Bessent menuturkan, AS berharap China dapat “mengurangi kelebihan produksi manufaktur dan mulai membangun ekonomi berbasis konsumen.”

(bbn)

No more pages