Logo Bloomberg Technoz

Wacana Impor Migas AS Dinilai Hambat Pengembangan EBT RI

Azura Yumna Ramadani Purnama
21 July 2025 14:40

Kabel listrik menggantung di dekat PLTA PT Poso Energy di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah./Bloomberg-Dimas Ardian
Kabel listrik menggantung di dekat PLTA PT Poso Energy di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Wacana pemerintah merealokasi impor minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM) dan liquified petroleum gas (LPG) ke Amerika Serikat (AS) dinilai berpotensi menghambat laju pertumbuhan energi baru terbarukan (EBT) serta industri migas nasional. 

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyatakan melambatnya laju pertumbuhan sektor migas dan EBT lokal berpotensi terjadi akibat pemerintah lebih mementingkan produk energi dari AS dibandingkan dengan dalam negeri.

“Ini akan membuat disinsentif pelaku energi domestik untuk mendorong produksinya, baik sektor migas maupun sektor energi terbarukan. Jadi, sektor EBT juga melihat pemerintah mau impor terus minyak [hingga] BBM, kapan kita mau melakukan transisi energi?" kata Bhima ketika dihubungi, Senin (21/7/2025).


Khusus bagi sektor EBT, Bhima menyatakan wacana impor migas dari AS sekitar US$10—US$15 miliar atau sekitar Rp162,3 triliun hingga Rp243,5 triliun (asumsi kurs Rp16.237), berpotensi memengaruhi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025—2034.

Penyebabnya, Indonesia akan sulit melakukan transisi energi ketika dalam saat yang sama dipaksa membeli bahan bakar fosil dari Negeri Paman Sam.

Bauran energi primer di Indonesia./dok. Bloomberg