Logo Bloomberg Technoz

Indeks saham berjangka Jepang tercatat turun pada Kamis pagi, sementara kontrak untuk Australia dan Hong Kong justru menguat.

Perdagangan Rabu memberi gambaran bagaimana reaksi Wall Street jika Trump benar-benar mencopot Powell — skenario yang menurut para analis akan mengguncang pasar global.

“Setelah presiden meralat ucapannya soal pencopotan Powell, krisis ini mungkin mereda untuk sementara, meski kami ragu kisah ini benar-benar usai,” ujar Michael Feroli dari JPMorgan Chase & Co.

Trump berulang kali mengkritik Powell karena enggan menurunkan suku bunga meskipun ada kekhawatiran bahwa tarif impor dapat memicu inflasi. Menteri Keuangan Scott Bessent pada Selasa lalu menyarankan agar Powell mundur dari dewan The Fed ketika masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada Mei 2026.

Pernyataan Trump di Kantor Oval juga membuka kemungkinan mencopot Powell "dengan alasan tertentu". Trump dan sekutunya telah mengecam Powell atas kebijakan mempertahankan suku bunga serta anggaran renovasi markas besar The Fed di Washington.

Pimpinan tertinggi di beberapa bank besar Wall Street menegaskan pentingnya independensi The Fed.

CEO Bank of America, Brian Moynihan, serta David Solomon dari Goldman Sachs, bergabung dengan CEO JPMorgan, Jamie Dimon, dalam menekankan pentingnya otonomi bank sentral AS tersebut. Dalam wawancara dengan Bloomberg TV, Moynihan mengatakan The Fed “dibentuk untuk menjadi independen.”

“Independensi The Fed sangat krusial,” kata Dimon dalam panggilan konferensi pada Selasa. “Campur tangan terhadap bank sentral sering kali membawa konsekuensi buruk.”

Menurut George Saravelos dari Deutsche Bank AG, pencopotan Powell oleh Trump akan menjadi risiko yang selama ini diremehkan pasar. Jika itu terjadi, dalam 24 jam pertama kemungkinan besar akan terjadi penurunan 3–4% pada dolar berbasis perdagangan, serta penurunan harga obligasi yang setara dengan lonjakan imbal hasil sebesar 30–40 basis poin.

The Fed dalam laporan Beige Book menyatakan aktivitas ekonomi AS “sedikit meningkat” antara akhir Mei hingga awal Juli. Namun, ketidakpastian tetap tinggi, membuat pelaku usaha cenderung berhati-hati.

Sebelumnya pada Rabu, data menunjukkan indeks harga produsen tidak berubah dari bulan sebelumnya, setelah direvisi naik 0,3% pada Mei. Harga grosir AS naik 2,3% dibanding tahun sebelumnya, menjadi yang terendah sejak September.

“Tren disinflasi masih berlangsung, tapi The Fed tampaknya belum akan menurunkan suku bunga sebelum September,” kata Jamie Cox dari Harris Financial Group. “Selama pasar tenaga kerja tetap kuat dan tangguh, suku bunga belum akan turun signifikan.”

Di Asia, data penting yang akan dirilis Kamis mencakup data ketenagakerjaan Australia dan Hong Kong, serta ekspor Singapura. Data investasi asing langsung (FDI) untuk bulan Juni dari China diperkirakan keluar antara Kamis hingga Jumat.

Sementara itu, perusahaan semikonduktor Jepang, Kioxia Holdings Corp, menjual obligasi berimbal hasil tinggi senilai US$2,2 miliar di AS, menjadi yang terbaru dalam gelombang penerbitan utang oleh korporasi Jepang. Di Hong Kong, tumpukan utang macet senilai US$25 miliar memicu spekulasi perlunya pembentukan “bank buruk” untuk menyerap kredit bermasalah tersebut.

(bbn)

No more pages