Sementara itu, Dwikorita mengatakan bahwa berdasarkan prediksi cuaca bulanan terbaru, BMKG memprakirakan kondisi curah hujan dengan kategori atas normal masih bakal berlanjut di sebagian wilayah hingga Oktober 2025 mendatang. Oleh karena itu, mereka menyebut bahwa musim kemarau tahun ini cenderung akan mempunyai durasi yang lebih pendek dibandingkan dengan normalnya dengan sifat hujan di atas normal.
“Kami mendorong petani hortikultura untuk mengantisipasi kondisi ini dengan menyiapkan sistem drainase yang baik dan perlindungan tanaman yang memadai,” kata Dwikorita.
Kemudian dia menegaskan pentingnya kesiapsiagaan berbagai pihak termasuk pemerintah daerah (pemda) dan masyarakat guna merespons dinamika iklim yang makin tak menentu. “Kita tidak bisa lagi berpaku pada pola iklim lama. Perubahan iklim global menyebabkan anomali-anomali yang harus kita waspadai dan adaptasi harus dilakukan secara cepat dan tepat,” ujar Dwikorita.
Adapun kata dia, menurut analisis BMKG terhadap data curah hujan di seluruh Indonesia pada dasarian I atau sepuluh hari pertama Juni 2025, sifat hujan di pelbagai wilayah mulai memperlihatkan tanda-tanda pergeseran ke kondisi kemarau. Sebanyak 72 persen wilayah berada dalam kategori normal, 23% dalam kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya, dan hanya sekitar 5% wilayah yang masih mengalami curah hujan dalam kategori atas normal.
Terkait hal tersebut, Dwikorita memandang bahwa tren pengurangan curah hujan mulai dirasakan di sebagian besar wilayah Indonesia, meskipun secara spasial belum merata. Sementara itu, wilayah Sumatera dan Kalimantan justru sudah mengalami beberapa dasarian berturut-turut dengan curah hujan yang lebih rendah dari normal, sehingga indikasi awal musim kemarau bakal lebih cepat terlihat di wilayah tersebut dibanding wilayah selatan Indonesia.
Akan tetapi, lanjut Dwikorita, pada bulan April-Mei 2025 lalu, beberapa wilayah di Indonesia bagian selatan mengalami kondisi curah hujan dalam kategori atas normal termasuk Sumatera Selatan (Sumsel), Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian kecil Kalimantan, sebagian wilayah Sulawesi, dan Papua bagian selatan. Pola ini memperlihatkan bahwa transisi musim kemarau tak berlangsung seragam di seluruh Tanah Air.
(far/spt)






























