Selain itu, lanjut dia, otoritas ketenagakerjaan juga rutin melakukan koordinasi dan konsolidasi lintas Kementerian, termasuk ke seluruh Dinas Ketenagakerjaan daerah.
"Jadi tema-nya sama: bagaimana kondisi geopolitik global ini harus kita respons bersama-sama. Karena ujungnya itu yang di hilir adalah Kementerian Ketenagakerjaan," tutur dia.
Sejak awal tahun hingga awal Juni ini, Kemnaker sendiri melaporkan sebanyak lebih dari 30 ribu orang telah terkena PHK, lebih tinggi dari laporan per 20 Mei lalu yang masih sekitar 26 ribu orang.
Konflik Iran-Israel sendiri sebelumnya memang telah memicu guncangan arus perdagangan logistik Indonesia, yang juga turut dikhawatirkan oleh kalangan pengusaha industri perkapalan atau Indonesian National Shipowners’ Association (INSA).
Ketua INSA Carmelia Hartoto mengatakan eskalasi konflik tersebut mengganggu jalur utama perdagangan laut global, Selat Hormuz. Hal ini pada akhirnya membengkakkan biaya angkutan logistik secara keseluruhan, mengganggu harga barang, hingga distribusi dalam negeri.
"Konflik ini juga dapat berdampak secara tidak langsung terhadap pelayaran domestik. Potensi Kenaikan harga minyak dunia akibat penutupan Selat Hormuz tentu akan memicu peningkatan biaya logistik secara keseluruhan," ujarnya saat dihubungi.
Industri pelayaran saat ini, lanjut dia, juga telah memulai diskusi intens secara informal dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah untuk membahas perkembangan konflik geopolitik global tersebut.
"Meskipun koordinasi formal secara kelembagaan masih dalam tahap penjajakan, diskusi-diskusi strategis telah mulai dilakukan secara informal untuk mengantisipasi dampak lanjutan dari dinamika global tersebut."
(ell)





























