Pun demikian, secara umum Vale Indonesia melihat prospek jangka panjang HPAL di Indonesia masih sangat positif, seiring dengan meningkatnya permintaan global terhadap bahan baku baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dan komitmen pemerintah untuk memperkuat rantai pasok industri hilir berbasis nikel.
Vale Indonesia menargetkan dapat menyelesaikan tiga proyek smelter nikel nikel hidrometalurgi atau berbasis teknologi HPAL pada periode 2025—2026.
Letak ketiga smelter nikel HPAL ini berada di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan, serta berdekatan dengan masing-masing tambang nikel milik Vale.
Sebelumnya, sekelompok perusahaan pelopor smelter nikel hidrometalurgi di Indonesia dengan biaya produksi terendah di dunia dilaporkan tengah terpukul oleh lonjakan harga bahan baku utama, yaitu sulfur, yang menghambat keuntungan mereka; tepat saat pasar dibebani dengan isu kelebihan pasokan bijih nikel.
Harga sulfur, bahan kimia yang digunakan untuk memproduksi asam, telah naik lebih dari tiga kali lipat selama setahun terakhir, didorong oleh peningkatan permintaan.
Hal itu menjadi masalah bagi smelter hidrometalurgi di Indonesia yang menggunakan pelindian asam bertekanan tinggi, yang dikenal sebagai HPAL.
Teknik terobosan ini memungkinkan smelter untuk mengekstraksi logam dari bijih nikel kadar rendah (limonit) dengan bahan kimia, sehingga tidak perlu menggunakan tanur sembur seperti halnya rotary kiln electric furnace (RKEF).
Karena rendahnya emisi dan biaya, smelter-smelter HPAL telah menikmati preferensi kebijakan, meskipun pemerintah pusat mengatakan pekan lalu bahwa mereka berencana untuk menghukum para produsen di kawasan industri Morowali karena dugaan pelanggaran lingkungan.
"Kita mungkin melihat suatu titik akhir tahun ini atau awal tahun depan ketika pabrik-pabrik HPAL mengalami margin yang sangat tipis," kata Luigi Fan, seorang analis di SMM Information & Technology Co.
Namun, Fan mengingatkan bakal ada lebih banyak produsen HPAL yang kemungkinan besar akan beroperasi, karena harga kobalt —produk sampingan nikel — yang kuat.
Perusahaan smelter HPAL yang ada termasuk PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL), yang dikenal sebagai Harita Nickel, dan Lygend Resources & Technology Co. dari China di Pulau Obi.
Proyek-proyek yang akan segera dimulai termasuk Nickel Industries Ltd., yang didukung oleh raksasa China Tsingshan Holding Group Co., dan sebuah usaha patungan dari PT Harum Energy Tbk (HRUM) di Teluk Weda.
Diperlukan sekitar 12 ton sulfur untuk membuat 1 ton endapan hidroksida campuran, atau mixed hydroxide precipitate (MHP), suatu bentuk nikel yang ditujukan untuk produsen baterai kendaraan listrik.
Mengingat lonjakan biaya sulfur, pabrik-pabrik HPAL perlu membayar lebih dari US$2.500 lebih banyak dari tahun lalu untuk setiap ton MHP, menekan margin dalam industri yang masih berkembang, kata Fan. Saat ini, biaya rata-rata untuk memproduksi 1 ton MHP sekitar US$11.000.
Produksi MHP diperkirakan terus meningkat di Indonesia. Output nikel MHP diestimasikan melonjak menjadi 619.000 ton pada 2026, naik lebih dari sepertiga dari tahun ini, menurut Angela Durrant, analis utama logam dasar di CRU Group.
Perluasan operasi smelter HPAL mendorong Indonesia menjadi importir utama sulfur global, yang secara tradisional digunakan untuk membuat pupuk.
Berdasarkan data Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), saat ini terdapat 10 proyek smelter HPAL di Tanah Air. Sebanyak 6 di antaranya sudah beroperasi, sedangkan 4 lainnya masih dalam tahap konstrumsi.
Enam smelter hidrometalurgi yang sudah beroperasi tersebut mencakup 15 lini produksi dengan kebutuhan bijih nikel sejumlah 62,25 juta ton basah atau wet metric ton (wmt). Empat yang masih dalam konstruksi mencakup 6 lini produksi dengan kebutuhan bijih nikel 56,94 juta wmt.
Secara kumulatif, kesepuluh smelter hidrometalurgi tersebut membutuhkan 119,20 juta wmt bijih.
(dov/wdh)





























