Presiden Direktur AMMN Agoes Projosasmito menjelaskan bahwa pembangunan smelter tembaga merupakan proyek yang dijalankan sebagai bagian dari kebijakan nasional hilirisasi di era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Dia menyebutkan bahwa berdasarkan perhitungan internal, nilai tambah yang dihasilkan dari pembangunan fasilitas pemurnian hanya sekitar 6% dari nilai konsentrat tembaga yang dijual. Sementara penjualan konsentrat tembaga saja menurutnya sudah menghasilkan sekitar 94% dari nilai akhir.
“Kami sudah beberapa kali mempresentasikan ini, termasuk kepada Presiden dan Menteri di Jepang. Dengan investasi miliaran dolar hanya menambah 6%, kapan break even pointnya [BEP], saya kapan bisa mengembalikan investasi saya?,” kata Agoes kepada Bloomberg Technoz, dikutip Senin (23/6/2025).
Agoes menyebut investasi yang dikucurkan untuk proyek ini sangat besar, mencakup pembiayaan pembangunan fasilitas pemurnian, penambahan daya listrik hingga 450 MW, serta ekspansi kapasitas produksi konsentrat. Menurut Agoes, ekspansi juga diperlukan untuk mendukung pengembangan tambang Elang yang menjadi bagian dari konsesi grup.
“Atas dasar kebutuhan belanja modal yang sangat besar ini, kami belum dapat membagikan dividen dalam waktu dekat. Kami berharap para investor dapat bersabar,” tambahnya.
Berat di Awal
ARCI juga memutuskan untuk kembali tidak membagikan dividen tahun buku 2024. Alasannya sama, ARCI tengah butuh modal ekspansi. Terlebih, perusahaan baru saja menemukan cadangan emas terbesar.
Meski demikian, Direktur Utama ARCI Rudy Suhendra menjelaskan bahwa pembangunan smelter dan ekspansi kapasitas produksi tidak bisa disamaratakan antarperusahaan. Menurutnya, setiap entitas memiliki struktur pabrik, kapasitas terpasang (installed capacity), dan rencana penambangan yang berbeda, sehingga kebutuhan investasinya pun bervariasi.
“Smelter itu diwajibkan, tapi besaran investasinya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing perusahaan,” kata Rudy kepada Bloomberg Technoz, dikutip Senin (23/6/2025).
Rudy mencontohkan bahwa ketika ARCI meningkatkan kapasitas produksi dari 2 juta ton menjadi 3 juta ton, perusahaan harus menambah fasilitas seperti grinding wall baru, yang menuntut investasi besar. Namun, saat kapasitas ditingkatkan lagi dari 3 juta ke 4 juta ton, kebutuhan tambahan investasi relatif lebih kecil karena sebagian fasilitas telah tersedia.
Lebih lanjut, dia menekankan bahwa manajemen ARCI tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis produksi saat mengambil keputusan investasi, tetapi juga mengkalkulasi nilai keekonomian proyek secara menyeluruh.
“Kami selalu melihat dari sisi nilai sekarang bersih atau Net Present Value (NPV). Selama proyek memberikan NPV dan Internal Rate of Return (IRR) yang positif, kami jalankan,” ujarnya.
Kinerja Saham AMMN dan ARCI
Meski para pemegang saham institusi harus puasa dividen, pemegang saham ritel dapat menikmati keuntungan dari pergerakan harga saham.
Berdasarkan data RTI pada penutupan perdagangan Jumat (20/6/2025) saham AMMN berada di level Rp7.625 per saham. Posisi ini naik 12,13% sepanjang 3 bulan terakhir. Namun secara year to date, saham AMMN melemah hingga 10,03%.
Sementara itu, AMMN memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp552,95 triliun dengan PBVR sebesar 6,71 kali dan PER minus 60,19 kali.
Berbeda dengan AMMN, saham ARCI justru melesat sejak awal tahun. ARCI tercatat di posisi Rp655 per saham atau naik 164,11% secara year to date. Dengan kapitalisasi pasar senilai Rp16,27 triliun, ARCI memiliki PER sebesar 23,29 kali dengan PBVR sebesar 3,46 kali.
(dhf)





























