Namun, bagi Gen Z, perangkat ini justru menghadirkan ketenangan pikiran dengan harga lebih murah dibanding iPhone yang kini bisa menembus lebih dari USD 1.000 atau sekitar Rp16 juta.
Pascal Forget, kolumnis teknologi dari Montreal, menyebut tren ini sebagai reaksi terhadap kecanduan smartphone.
"Smartphone bukan lagi sumber hiburan," katanya kepada CBC News. "Dulu menyenangkan, sekarang orang-orang kecanduan. Jadi mereka ingin kembali ke masa yang lebih sederhana."
Konten kreator Sammy Palazzolo, yang kini menggunakan ponsel flip di waktu senggangnya, mengaku lelah melihat orang-orang terus menerus menatap layar.
"Ini seharusnya jadi momen terbaik dalam hidup kita, tapi semua orang malah sibuk menggulir," ujarnya kepada USA Today.
Data dari Pew Research Center mendukung fenomena ini. Studi tahun 2024 menunjukkan hampir 50% remaja kini merasa mereka hampir selalu online, naik tajam dari 24% satu dekade lalu. Bahkan, beberapa mengaku mengalami “notifikasi hantu”, atau merasakan getaran telepon padahal tidak ada pesan masuk. Lainnya mengatakan kebiasaan menekan tombol 'on' pada ponsel sudah jadi refleks tak sadar.
Charlie Fisher, mahasiswa 20 tahun, menyebut siklus kecanduan ini menciptakan tekanan mental tersendiri. "Saya merasa cemas, lalu membuka ponsel, lalu membenci diri saya sendiri karena membukanya, lalu makin cemas," katanya.
Gerakan kembali ke "dumbphone" seperti BlackBerry menjadi simbol dari dorongan Gen Z untuk digital minimalism yakni cara mengambil kembali kendali atas hidup, pikiran, dan perhatian mereka.
(prc/wep)






























