Logo Bloomberg Technoz

“Begitu juga dari sisi target laba, tentunya sebagai perusahaan kami menargetkan adanya pertumbuhan di laba tahun 2025,” kata dia.

Ihwal rencana peningkatan kinerja itu, Direktur Utama TINS Restu Widiyantoro mengatakan perseroannya bakal meningkatkan pengawasan atas wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) dari pertambangan liar.

Restu mengatakan upaya peningkatan pengamanan WIUP dari praktik tambang ilegal itu bakal menjadi fokus kerja 100 hari mendatang setelah dilantik sebagai Direktur Utama TINS bulan lalu.

“Kami coba tingkatkan minimal 30% dari wilayah di IUP kita bisa aman dari kegiatan-kegiatan yang hilang,” kata Restu di Jakarta dikutip Jumat (13/6/2025).

Restu mengatakan perseroannya telah menggandeng institusi penegak hukum lainnya untuk ikut mengawasi dan menindak praktik pertambangan tanpa izin (PETI) di lingkungan WIUP TINS.

Restu mengakui saat ini kegiatan PETI terbilang masif di WIUP TINS yang belakangan ikut disorot Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK.

 Situasi itu, kata dia, ikut mengoreksi torehan produksi timah dari perseroan beberapa tahun terakhir.

“Adanya kelemahan kita sehingga hasil pengumpulan bijih timah dan proses-proses berikutnya selama ini tidak bisa maksimal,” kata Restu.

Kinerja Operasi TINS

Sampai dengan kuartal-I 2025, TINS mencatat produksi bijih timah sebesar 3.215 ton Sn atau turun 40% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 5.360 ton Sn.

Adapun produksi logam timah turun 31% menjadi 3.095 ton Sn dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 4.475 ton Sn. Sedangkan penjualan logam timah turun 18% menjadi 2.874 metrik ton dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 3.524 ton.

Harga jual rata-rata logam timah sebesar US$32.495 per ton, naik 20% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$27.071 per ton.

Pada kuartal I 2025, Perseroan mencatatkan penjualan logam timah domestik sebesar 9% dan ekspor logam timah sebesar 91% dengan 6 besar negara tujuan ekspor meliputi Korea Selatan 19%; Jepang 19%; Singapura 14%; Belanda 11%; India 2%; dan China 1%.

(naw)

No more pages