Logo Bloomberg Technoz

Sinyal Waspada di Balik Riuh Pemangkasan Produksi Smelter Nikel

Mis Fransiska Dewi
06 June 2025 05:50

Nikel matte cair di tungku smelter./Bloomberg-Cole Burston
Nikel matte cair di tungku smelter./Bloomberg-Cole Burston

Bloomberg Technoz, Jakarta – Penyetopan sementara sejumlah lini produksi smelter pirometalurgi di Indonesia dinilai menjadi pertanda industri hilir nikel di dalam negeri sedang tidak baik-baik saja.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy Hartono menyebut koreksi harga nikel masih menjadi faktor pemberat utama yang menekan kinerja industri pengolahan komoditas mineral logam tersebut.

“Sepanjang 2025 ini, harga nikel di bursa London Metal Exchange memang mengalami tekanan yang cukup besar. Harganya terkoreksi di kisaran US$15.000/ton, padahal pada 2023 harga nikel menembus angka US$30.000/ton,” ujarnya saat dihubungi Bloomberg Technoz.  


Koreksi harga nikel yang cukup tajam tersebut, kata Sudirman, bakal berdampak besar bagi perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan dan pemurnian atau smelter.

Ilustrasi pabrik feronikel (dok PT Aneka Tambang Persero)

Tidak berhenti sampai di situ, biaya produksi nikel saat ini mengalami kenaikan akibat faktor global. Biaya investasi pembangunan pabrik nikel juga mahal di kisaran Rp10 triliun—Rp20 triliun, padahal harga nikel justru mengalami penurunan yang tajam.