Logo Bloomberg Technoz

"Di sisi AS, tampaknya jelas sekarang, ada perasaan bahwa Beijing akan sepenuhnya menghapus persyaratan persetujuan," kata Combs dalam wawancara dengan Bloomberg TV. "Itu bukanlah yang tampaknya disetujui Beijing, dan juga bukan interpretasi saya atas pernyataan tersebut."

"Menyalahkan China atas penundaan ini masih terlalu dini," imbuh Combs, yang memberikan kesaksian tentang mineral kritis kepada Komisi Peninjauan Ekonomi dan Keamanan AS-China pada April lalu. "Prosesnya belum selesai."

Kesenjangan ekspektasi yang tampak ini menimbulkan konsekuensi besar. Presiden AS Donald Trump menuduh Beijing melanggar kesepakatan Jenewa, dan pemerintahannya mengeluarkan langkah-langkah tambahan untuk merugikan China.

Pekan ini, Menteri Luar Negeri China Wang Yi memanfaatkan pertemuan pertamanya dengan Duta Besar AS untuk China yang baru dengan memprotes tindakan "tak berdasar" dari Washington.

Teks Perjanjian Jenewa mencakup komitmen China untuk mencabut tindakan balasan yang diambil terhadap AS sejak 2 April, tanpa merinci detailnya. China memberlakukan aturan ekspor terhadap tujuh jenis logam tanah jarang mulai 4 April—berlaku untuk semua pengiriman, bukan hanya untuk kargo yang menuju AS.

Sampel Logam Tanah Jarang (Peter Kollanyi/Bloomberg)

Awal pekan ini, Kamar Dagang Amerika di China mengatakan bahwa "beberapa" ekspor ke AS sudah memperoleh persetujuan.

Kekurangan logam tanah jarang telah menyebabkan gangguan produksi di pabrik-pabrik AS dan akan menjadi tantangan besar bagi industri pertahanan negara tersebut, yang bergantung pada magnet kecil tetapi kuat yang terbuat dari tanah jarang.

"Sektor pertahanan sangat rentan," kata Combs. "Mereka tidak akan mengumumkannya secara terbuka, tetapi inilah kenyataannya."

Combs memandang perselisihan ini juga berpotensi meningkat jika China memutuskan untuk mencegah negara ketiga mengirimkan mineral-mineral ini ke AS.

"Hal terbesar yang saya perhatikan secara pribadi adalah kemampuan AS untuk mengimpor barang-barang intermediate yang mengandung tanah jarang China, yang terutama mengalir melalui Jepang dan Korea Selatan," ungkapnya.

"AS mengimpor lebih banyak barang-barang ini sebagai bahan baku daripada mengimpornya secara langsung. Jadi, di situlah ancaman sesungguhnya."

(bbn)

No more pages