Obligasi pemerintah AS (Treasury) mencatatkan kerugian bulanan pertama sepanjang tahun ini pada Mei, tertekan oleh ketidakpastian tarif yang kembali muncul dan kekhawatiran atas tingginya utang pemerintah. Imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun naik untuk bulan ketiga berturut-turut — tren terpanjang sejak 2023 — seiring Trump berupaya meloloskan rancangan undang-undang pemotongan pajak di Kongres.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, akhir pekan lalu kembali menegaskan bahwa negaranya “tidak akan pernah gagal bayar,” meskipun tenggat waktu untuk menaikkan plafon utang federal semakin dekat.
Sementara itu, fokus pelaku pasar Asia akan segera beralih ke saham-saham Hong Kong setelah data aktivitas manufaktur China menunjukkan kontraksi yang melambat pada Mei dibanding bulan sebelumnya. Pasar China daratan sendiri tutup untuk libur nasional.
Menambah dinamika sentimen, Trump dan Presiden China Xi Jinping diperkirakan akan melakukan pembicaraan via telepon dalam pekan ini untuk meredakan ketegangan, setelah pejabat Gedung Putih pada Jumat malam menuding Beijing tidak mematuhi beberapa poin dalam kesepakatan dagang.
“Saham berada dalam risiko koreksi baru, mengingat ketidakpastian tarif yang terus berlangsung, kekhawatiran terhadap utang AS, potensi pelemahan ekonomi dan laba perusahaan, serta risiko serangan AS atau Israel terhadap fasilitas nuklir Iran jika diplomasi gagal,” tulis Shane Oliver, Kepala Strategi Investasi dan Kepala Ekonom di AMP Ltd, dalam laporannya.
(bbn)































