Periode kedua, 2030—2034, investasi kelistrikan diproyeksikan mencapai Rp1.793,48 triliun.
Perinciannya, 63% atau Rp1126,5 triliun untuk pembangkit IPP, 14% atau Rp261,3 triliun untuk pembangkit PLN, 11% atau Rp201 triliun untuk transmisi dan gardu induk, 4% atau Rp67,5 triliun untuk distribusi dan Lisdes, serta 8% atau Rp137,18 triliun untuk lainnya.
Peran Swasta
Secara kumulatif, perkiraan investasi khusus untuk pembangkit saja diestimasikan menembus Rp2.133,7 triliun hingga 2034, sedangkan untuk penyaluran ditaksir mencapai Rp565,3 triliun.
Sisanya sebanyak Rp268,4 triliun digunakan untuk investasi lain-lain di sektor kelistrikan.
“Peluang investasi untuk pembangkit senilai Rp2.133,7 triliun, [di mana] sekitar 73% dialokasikan untuk partisipasi IPP,” papar Kementerian ESDM.
Jika dididetailkan, partisipasi swasta atau IPP dalam investasi kelistrikan hingga 2034 ditaksir mencapai Rp1.566,1 triliun, yang terdiri dari investasi pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) Rp1.341,8 triliun dan non-EBT Rp224,3 triliun.
Sementara itu, investasi dari PLN hingga 2034 diproyeksikan sebesar Rp567,6 triliun, terdiri dari Rp340,6 triliun EBT dan Rp227 tirliun non-EBT.
Di dalam RUPTL, pemerintah merancang penambahan pembangkit listrik 2025—2034 naik menjadi 69,5 gigawatt (GW) dengan komposisi pembangkit EBT 42,6 GW dan penyimpanan energi 10,3 GW.
Penambahan pembangkit tersebut ditargetkan sebanyak 42,6 GW (61%) dari EBT, 16,6 GW (24%) dari energi fosil, dan 10,3 GW (15%) dari segmen penyimpanan atau storage.
(wdh/naw)































