“Tapi kalau penyandang autisme itu kan harus khusus karena kita dari awal harus mendeteksi kira-kira emosinya ke arah mana, tapi kita yakin mereka itu kalau dilatih, di assess (dinilai) dengan baik, tau mood-nya mereka, emosinya dia itu bisa dilatih,” tambah Veronica.
“Tadi seneng juga ketemu sama coffee shop yang katanya mempekerjakan juga anak-anak autis jadi inilah yang masukan-masukan yang sebenarnya bisa kita lakukan di low hanging fruit (bisa dicapai)."
Oleh karena itu, dia mengatakan bahwa pihak Kementerian PPA bersama kementerian terkait dan pemerintah membuka diri mengenai pekerja difabel. Diharapkan ke depan bisa menciptakan evaluasi dan inovasi agar dapat menanggulangi kekurangan dalam hal ini.
“Makanya saya bilang kita membuka diri, apakah kita pemerhati ini akan menjadi fasilitator membuat festival-festival khusus, misalnya roadmap kayak misalnya dalam rangka 17 Agustus kan,” ujarnya.
“Kita menyediakan platform juga untuk para autisme ini bisa memamerkan misalnya, jadi nanti kita tinggal kumpulkan kurasi gitu loh dari para pemerhati yang anak-anaknya, kita berikan platform lah kepada mereka sebagai bagian dari negara hadir. Jadi ini yang sedang kita coba roadmap, apa yang kurang di tengah ini yang tidak tercapai, ini yang menjadi misa kita yang kita kunci supaya cara terbaiknya cepet gitu loh, tapi ada pemerhati di sini, pemerintah sudah ada hukumnya, penyediaannya, tinggal digodok aja dan juga bersama Kemensos."
(dec/spt)






























