Pada Minggu (18/5/2025), Menteri Keuangan Scott Bessent mengabaikan kekhawatiran para investor, dengan mengatakan pemerintah bertekad untuk menurunkan belanja dan meningkatkan perekonomian.
"Pergerakan harga pada Senin menjawab pertanyaan tersebut: Apa yang akan terjadi jika Moody's mengadakan pesta penurunan peringkat dan tidak ada yang datang?" kata Ian Lyngen dan Vail Hartman dari BMO Capital Markets.
"Sebagai referendum mengenai relevansi lembaga-lembaga pemeringkat, para investor jelas berpihak pada Bessent yang menyebut mereka sebagai indikator-indikator yang tertinggal."
Di Asia, ada tanda-tanda krisis properti yang berkepanjangan di China, tekanan deflasi dan kekhawatiran tentang pengangguran membebani kepercayaan di kalangan rumah tangga. Data pada Senin menunjukkan produksi industri pada April meningkat lebih cepat dari yang diprediksi, sedangkaan data konsumsi mengecewakan.
Pemerintah China, yang menetapkan target pertumbuhan ekonomi ambisius sekitar 5% untuk tahun 2025, sebelumnya menjadikan peningkatan konsumsi domestik sebagai prioritas tahun ini.
"Angka produksi industri yang cerah hanya mencerminkan satu bagian dari perekonomian," kata Raymond Yeung, Kepala Ekonom Greater di Australia & New Zealand Banking Group Ltd. "Namun, angka penjualan ritel April menunjukkan orang-orang enggan berbelanja. Untuk mencapai pertumbuhan 5%, kita masih membutuhkan konsumsi."
Sementara itu, China menuduh pemerintahan Donald Trump merusak perundingan dagang yang baru-baru ini disepakati di Jenewa, Swiss. AS mengancam bahwa menggunakan cip kecerdasan buatan (AI) Huawei Technologies Co "di mana pun di dunia" akan melanggar kontrol ekspor AS. Kementerian Perdagangan China lantas menuntut agar AS "memperbaiki kesalahannya."
Kembali ke AS, beberapa ahli strategi mengatakan setiap penurunan peringkat kredit AS mungkin menjadi peluang untuk membeli saham.
Thomas Lee dari Fundstrat Global Advisors memandang penurunan peringkat Moody sebagai "peristiwa yang sebagian besar tidak penting," sambil menambahkan, jika terjadi pelemahan saham, ia akan "membeli penurunan ini secara agresif."
Di sisi lain, ahli strategi Goldman Sachs Group Inc, David Kostin memperkirakan saham-saham teknologi "Magnificent Seven" akan kembali mengungguli S&P 500 secara lebih luas karena tren pendapatan perusahaan kuat.
"Pencarian katalis pasar baru dimulai," kata Chris Larkin dari E*Trade dari Morgan Stanley. "S&P 500 mengakhiri minggu lalu dengan kenaikan sepanjang tahun, dan hanya sedikit lebih dari 3% di bawah level tertingginya sepanjang masa. Apakah indeks ini akan menutup celah tersebut dalam waktu dekat merupakan satu hal, mempertahankan reli setelahnya merupakan hal lain."
(bbn)



























