Harwendro menyampaikan penurunan nilai perdagangan timah berbanding lurus dengan berkurangnya produksi/ekspor timah setiap tahun.
Industri Hilir
Terkait dengant kebutuhan timah untuk serapan serapan domestik, Harwendro menyebut sektor hilir timah di dalam negeri masih terbatas, salah satunya akibat berbagai kendala kebijakan yang memberatkan sektor ini.
“Ekosistem industri hilir timah di dalam negeri masih belum terbentuk optimal, sehingga aplikasi logam timah pada industri turunannya di dalam negeri masih kecil,” ujarnya.
Di sisi lain, kata Harwendro, pelaku industri timah lokal sulit bersaing dengan gempuran produk solder impor yang tidak dibentengi oleh instrumen trade remedies.
“Impor solder bebas bea masuk 0% yang mengakibatkan produk solder dalam negeri tidak kompetitif,” ujarnya, tanpa mengelaborasi berapa volume impor solder yang masuk ke pasar Indonesia tiap tahunnya.
Di sisi lain, lanjutnya, bahan baku logam timah untuk memproduksi solder dari dalam negeri justru diganjar pajak pertamnahan nilai (PPN) sebesar 12%, sehingga menyebabkan solder produksi lokal kalah bersaing.
Harwendro menambahkan pemasaran produk hilir timah seperti solder juga terganjal oleh regulasi ekspor.
Menurutnya, pasar produk solder bervariasi—baik dari spesifikasi bentuk maupun komposisi — menyesuaikan permintaan pembeli, tetapi regulasi ekspor solder hanya mengatur spesifikasi tertentu.
“Di samping itu, tidak ada keistimewaan kepada pelaku hilirisasi timah dalam hal kebijakan dan pemberian insentif fiskal, finansial, maupun infrastruktur kawasan khusus,” terangnya.
Direktur Utama PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) Maroef Sjamsoeddin sebelumnya memaparkan, sepanjang 2023, produksi timah di Indonesia mencapai 65.000 ton bijih timah. Dengan jumlah tersebut, kontribusi timah Indonesia secara global sebesar 17,5%.
Akan tetapi, produksi timah nasional mengalami penurunan pada 2024 menjadi sebesar 45.000 ton. Dengan jumlah produksi itu, kontribusi RI di pasar global menjadi 12%.
Maroef menjelaskan menurunnya pasokan timah dari Indonesia mengakibatkan kenaikan harga timah dunia dari harga rata-rata US$26.583/ton pada 2023 menjadi US$31.164/ton pada 2024.
"Hal tersebut membuktikan pengaruh pasokan timah Indonesia terhadap pasar global," kata Maroef dalam rapat bersama Komisi VI DPR, Rabu (14/5/2025).
PT Timah Tbk (TINS) menyatakan penyebab produksi timah yang mengalami penurunan sebesar 41,6%—atau dari 68.236 ton pada 2023 menjadi hanya 39.814 ton pada 2024 — adalah karena faktor cuaca.
Corporate Secretary PT Timah Rendi Kurniawan mengatakan peralihan musim atau pancaroba kali ini lebih panjang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun, pada awal tahun ini dia mengeklaim produksi timah TINS sudah mulai membaik.
Adapun, menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi produksi timah pada tahun lalu hanya mencapai 39.814 ton, anjlok 41,6% dari capaian 2023 yang sebanyak 68.236 ton.
(wdh)






























