"Tren penurunan ini perlu menjadi perhatian bersama mengingat sektor ini memiliki kontribusi penting terhadap penciptaan lapangan kerja, investasi lokal, serta rantai pasok bahan baku dan logistik," tutur dia.
Lebih Rendah
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIN) Triyono Prijosoesilo mengatakan, realisasi pertumbuhan industri mamin yang mencapai 3% tersebut masih ditopang oleh segmen AMDK.
Jika menghilangkan kategori itu, lanjut dia, kinerja golongan minuman ringan yang termasuk dalam kategori nonalcoholic ready to drink (NARTD) terkontraksi hingga 2,6%. Kinerja kuartal I-2025 juga terkontraksi 1,3%.
Apalagi, kata Tri, periode Lebaran pada Maret tahun ini, yang diharapkan mampu menopang pertumbuhan, justru tidak sesuai harapan, yang juga menjadi bagian kelesuan daya beli yang pada akhirnya mengurangi jumlah pemudik dan ekonomi lokal.
"Ternyata, datanya menunjukkan bahwa lebaran tahun ini tidak seindah yang kita bayangkan," kata Tri. "Kita lihat adalah pelemahan konsumsi cukup dalam, cukup tajam. Terus terang ini menjadi catatan bagi kita."
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, sepanjang 2024, industri NARTD tersebut tercatat mencakup sebanyak 126 perusahaan, dengan total nilai investasi Rp3,16 triliun.
Seluruh perusahaan tersebut memiliki total kapasitas produksi mencapai 15,5 miliar liter, dengan utilisasi sekitar 77,4%. Total tenaga kerja yang terserap mencapai sebanyak 22.853 orang.
"Memang momentum 2 tahun ini momentum yang sangat mengkhawatirkan, tettapi kami meyakini kalau kita bisa fokus, kita bisa keluar dari tantangan ini," ujar Tri.
(ibn/wdh)






























