“Kita memang perlu melihat detailnya, dan itu akan memungkinkan investor menilai seberapa besar dampaknya terhadap pasar ke depan,” kata Nick Twidale, analis pasar utama di AT Global Markets.
Meski begitu, “berita di akhir pekan ini sangat positif bagi pasar China secara umum,” ujarnya.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan bahwa AS akan membagikan lebih banyak rincian pada hari Senin. Wakil Perdana Menteri China, He Lifeng, mengatakan bahwa kedua negara telah sepakat untuk membentuk mekanisme guna pembicaraan lanjutan, dan akan merilis pernyataan bersama.
Nilai tukar yuan sedikit menguat terhadap dolar di pasar dalam negeri, sementara obligasi acuan China mengalami penurunan.
‘Pengaturan Ulang Total’
Meskipun tidak ada pihak yang mengumumkan langkah konkret selama akhir pekan, keduanya menyampaikan pesan yang jelas bahwa telah terjadi kemajuan dalam meredakan konflik dagang yang telah mengguncang pasar global dan mendorong pelarian ke aset-aset aman. Dalam unggahan di media sosial akhir pekan lalu, Trump menyebut pembicaraan tersebut sebagai “pengaturan ulang total yang dinegosiasikan secara bersahabat namun konstruktif.”
“Karena yang ‘terburuk’ sudah lewat, setiap pelonggaran ketegangan dagang selanjutnya akan memberikan optimisme untuk mendorong saham-saham China,” kata Francis Tan, kepala strategi Asia di Indosuez Wealth Management.
Prospek pasar saham China secara keseluruhan dinilai positif, dengan kebijakan domestik yang mendukung konsumsi riil dan sentimen yang kemungkinan besar akan menjadi pendorong utama kenaikan lebih lanjut tahun ini dan seterusnya, ujar Tan.
Kenaikan saham-saham China merupakan bagian dari pergerakan lebih luas di seluruh Asia, seiring para pelaku pasar menghela napas lega setelah berbulan-bulan dilanda gejolak akibat tarif. Kontrak berjangka saham AS juga melonjak selama jam perdagangan Asia, dengan kontrak indeks S&P 500 naik sekitar 1,4%.
Saham-saham China sebelumnya terpukul keras akibat pengumuman tarif “Hari Pembebasan” oleh Trump, yang memicu serangkaian respons dan balasan dari kedua negara. Indeks HSCEI anjlok 14% pada 7 April, menjadikan hari itu sebagai hari terburuk bagi saham Hong Kong sejak tahun 1997.
(bbn)
































