Logo Bloomberg Technoz

Di belakang rupiah, yuan offshore turun nilainya 0,23% bersama yuan Tiongkok. Lalu dolar Taiwan, ringgit serta baht juga peso juga tertekan oleh dolar AS. Disusul dolar Singapura.

Hanya yen Jepang yang masih menguat, bersama won Korsel, rupee India serta dolar Hong Kong. 

Sementara di pasar offshore, rupiah forward (NDF) juga makin tertekan mendekati Rp16.900/US$ siang ini. Pagi tadi rupiah NDF di pasar mancanegara sempat menyentuh Rp16.891/US$ sebelum akhirnya terangkat lagi di kisaran Rp16.875/US$.

Pelemahan rupiah di pasar spot malah makin buruk ketika indeks dolar AS yang pagi tadi dibuka menguat, siang ini makin lemah di 98,13.

Adapun pergerakan transaksi saham dan surat utang di pasar domestik juga masih di zona hijau sampai penutupan sesi pertama perdagangan hari ini.

IHSG yang sempat terperosok melemah di 6.433 pagi tadi, berbalik menguat dan ditutup naik 0,9% pada sesi pertama di level 6.503.

Di pasar surat utang, rata-rata seri SUN juga memperlihatkan kenaikan harga, terindikasi dari penurunan yield.

Melihat data OTC Bloomberg, yield 2Y turun tipis 0,6 bps ke level 6,607%. Sedangkan tenor 5Y juga turun 1 bps bersama tenor 10Y terpangkas sedikit 0,2 bps kini di 6,964%.

Tenor 1Y malah yang naik yieldnya 2,9 bps kini di 6,538% dengan tenor 20Y juga naik 1,6 bps di 7,053%.

Lanskap perdagangan global memang masih penuh ketidakpastian. Investor masih berbondong-bondong keluar dari aset AS, terlihat dari pelemahan dolar AS yang berlanjut juga kenaikan yield US Treasury di mana UST-10Y siang ini sudah di 4,42%, setelah kemarin indeks saham di Wall Street rontok lebih dari 2%.

Modal global keluar dari AS dan memburu instrumen safe haven seperti emas, yang kembali memecah rekor tertinggi baru di US$ 4.493,98 per troy ounce pada pukul 10:40 WIB tadi. Modal global juga memburu valuta safe haven seperti yen serta franc Swiss.

BI rate bisa turun

Hari ini, Kementerian Keuangan menggelar lelang SUN perdana setelah libur panjang Lebaran, dengan target perolehan mencapai Rp26 triliun. Lelang berakhir pada pukul 11.00 WIB tadi dan hasilnya baru akan diumumkan sore nanti.

Sementara di kawasan Thamrin, Dewan Gubernur Bank Indonesia memulai gelar pertemuan bulanan (RDG) selama dua hari untuk memutuskan kebijakan bunga acuan yang akan diumumkan Rabu esok.

Konsensus yang dihimpun oleh Bloomberg sejauh ini memperkirakan BI akan kembali menahan bunga acuan dilatarbelakangi oleh kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar.

Kondisi rupiah yang rentan menjebol level psikologis Rp17.000/US$ dinilai akan membatasi keberanian BI melonggarkan moneter demi mendukung pertumbuhan domestik yang terlihat mulai terseok.

Namun, konsensus ekonom itu tidak bulat. Ada dua ekonom dari 27 yang disurvei, memperkirakan BI sebenarnya bisa memangkas bunga acuan dalam RDG bulan ini.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian berpandangan, para pemangku kebijakan harus mau melihat lebih jauh dan memandang bahwa perang dagang yang terjadi saat ini kemungkinan besar adalah hal yang struktural dan akan berlanjut lama.

"Akan sangat bijaksana kalau Bank Indonesia mulai melanjutkan pemotongan suku bunga di bulan April ini, dengan mempertimbangkan potensi perlambatan ekonomi yang muncul, serta sangat rendahnya realisasi inflasi yang saat ini berada di bawah target 2,5+/-1%," kata Fakhrul yang memprediksi BI akan memangkas bunga 25 bps esok.

Terkait dengan nilai tukar rupiah, menurut Fakhrul, kondisi saat ini di level Rp16.800/US$ di anggap sebagai level yang overshoot. "Terkait pelemahan rupiah, kita harus memanfaatkan momentum pelemahan ini untuk meningkatkan ekspor, terutama dari daerah berbasis komoditas. Di sisi lain, sudah terbukti bahwa dampak passthrough dari pelemahan rupiah kepada tingkat inflasi Indonesia juga semakin terbatas," jelasnya.

Indonesia seharusnya tidak perlu takut terhadap pelemahan mata uang, menurut Fakhrul. Itu karena sebagian besar hutang di sistem keuangan dilakukan dalam mata uang sendiri atau dalam denominasi rupiah. "Kita harus memanfaatkan momentum pelemahan rupiah untuk meningkatkan daya saing industri dalam negeri. Rupiah lemah bukan pembawa ketakutan, tapi akan menjadi sebuah tools penting," kata Fakhrul.

Rupiah sejauh ini menjadi mata uang terburuk di Asia dengan pelemahan 4,5% year-to-date. Anehnya, ketika rupiah mengalami tekanan besar pada akhir Maret lalu, nilai cadangan devisa BI malah mencetak rekor. Pada akhir Maret lalu, nilai cadev RI mencapai US$ 157,08 miliar. Bank Indonesia mengatakan kenaikan itu adalah bersumber dari penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. 

Volatilitas tajam rupiah bukan hal yang menyenangkan bagi para pelaku usaha. Nilai cadangan devisa yang besar sebenarnya bisa lebih optimal bila digunakan untuk memastikan rupiah lebih stabil hingga tak sampai menjebol level psikologis seperti yang terjadi pada Maret lalu juga pada April ini.

Kabar terbaru tentang lonjakan nilai surplus dagang juga memberi sokongan pada rupiah. Surplus neraca dagang RI pada Maret melejit hingga US$ 4,33 miliar, lebih tinggi dibanding bulan Februari sebesar US$ 3,11 miliar. Angka surplus dagang bulan lalu itu juga melampaui ekspektasi pasar yang semula cuma memperkirakan sebesar US$ 2,86 miliar.

Torehan kinerja itu memberi optimisme secara umum dengan harapan mendukung nilai surplus transaksi berjalan RI antara US$ 1 miliar hingga US$ 1,5 miliar pada kuartal 1-2025 ini, menurut analisis dari Mega Capital Sekuritas.

"Hal itu menyiratkan penurunan tajam posisi defisit neraca berjalan 12 bulan terakhir (TTM) menjadi 0,35% dari PDB. Capaian tersebut bisa mendorong stabilitas rupiah pada kuartal dua tahun ini dengan kisaran pergerakan di Rp16.500-Rp16.900/US$," kata Lionel Priyadi, Fixed Income and Macro Strategist Mega Capital, yang memperkirakan BI masih akan menahan lagi bunga acuan di 5,75% pada Rabu esok.

(red)

No more pages