Logo Bloomberg Technoz

Langkah ini membawa hasil. Dengan laporan palsu yang menunjukkan lonjakan pendapatan hingga 50 kali lipat dari US$185.000 pada 2018 menjadi sekitar US$10 juta setahun kemudian, Gibran sukses menutup putaran pendanaan Seri A sebesar US$4 juta. Investor seperti Wavemaker Partners dan 500 Global pun bergabung.

Dengan dana segar yang terus mengalir, eFishery kian berkembang cepat. Mereka bahkan meluncurkan aplikasi yang memudahkan pelanggan untuk membeli ikan secara langsung dari petani dan membangun titik distribusi di berbagai pulau untuk mendistribusikan pakan sekaligus mengumpulkan hasil panen.

Perkembangan ini dirasakan manfaatnya buat para petani, salah satunya, Suganda yang menjadi salah satu pengguna awal mesin eFeeder di daerah Cirebon, Jawa Barat.

Alatnya sendiri berupa drum plastik setinggi dada yang bisa menampung sampai 100 kg pakan ikan. Di bagian bawahnya ada kotak kontrol yang mengatur seberapa banyak pakan yang keluar. Petani cukup mengatur jadwal dan jumlah pakan lewat aplikasi eFishery.

Namun, Suganda juga menegaskan, selama ia jadi pengguna eFishery, tak pernah sekalipun diminta oleh Gibran untuk memanipulasi data atau melebih-lebihkan apapun.

Hingga tahun 2020, ketika tren investasi sosial dan lingkungan tengah naik daun, eFishery muncul sebagai kandidat ideal di bidang teknologi perikanan, bantu petani kecil yang dibangun oleh founder dengan kisah hidup yang menyentuh. Kombinasi ini menarik perhatian SoftBank, yang saat itu memang sedang membidik startup potensial di Asia Tenggara.

Gibran pun menerima kabar jika Masayoshi Son, bos besar SoftBank, ingin berbicara langsung, hingga pada akhirnya presentasi online dilakukan. Tak lama, tawaran investasi dari SoftBank masuk, disusul oleh Temasek dan Sequoia India. Hasilnya, eFishery mengantongi pendanaan Seri B senilai US$20 juta dengan valuasi perusahaan yang melonjak jadi US$410 juta, kata Gibran.

Namun, semua itu ternyata berdiri di atas fondasi yang rapuh. Gibran mengaku mengatur alur transaksi petani secara buatan ke platform eFishery. Ia membentuk perusahaan cangkang dan menggunakan akun petani palsu untuk menggembungkan volume transaksi.

Bahkan dalam proses pendanaan Seri B, ungkapnya, ada 20 petani yang dikunjungi langsung. Di Seri C, jumlahnya naik jadi sekitar 70. Tapi perusahaan yang melakukan pengecekan—yang identitasnya belum dikonfirmasi oleh Bloomberg—ternyata mengambil data petani dari database eFishery, lalu memberi tahu siapa saja yang akan mereka kunjungi. Hanya sebagian kecil kunjungan yang benar-benar acak.

Dengan informasi itu, Gibran lantas menyiapkan lokasi sebelum tim audit datang. Manajer area bahkan diberi lembaran angka performa yang harus disampaikan ke tim pengecek, lalu mereka juga briefing petani. Sisanya kata Gibran, tinggal mengandalkan keberuntungan.

Lokasi petani yang tersebar di ribuan pulau Indonesia juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses audit. Dengan lebih dari 17.000 pulau dan banyak kegiatan yang berlangsung di wilayah pedesaan, alamat yang tersedia sering kali tidak cukup akurat. Untuk mencapai lokasi petani pun, auditor sering kali memerlukan bantuan dari warga atau petani setempat untuk menemukan titik tujuan secara tepat.

Namun pada akhirnya, kebohongan ini terbongkar melalui laporan dari whistleblower yang masuk ke dewan direksi pada akhir 2024. Disebutkan, pendapatan yang diklaim US$752 juta sebenarnya hanya US$157 juta.

Gibran pun dicopot dari jabatannya. Dewan menyimpulkan eFishery sudah tidak layak secara komersial dalam bentuknya sekarang. Startup ini sekarang di ambang pembubaran, dengan kerugian investor yang diperkirakan mencapai US$300 juta.

-Dengan asistensi Faris Mokhtar, Olivia Poh, dan David Ramli dari Bloomberg News.

(prc/wep)

No more pages