Logo Bloomberg Technoz

“Perkembangan terbaru, terutama minggu ini, menunjukkan bahwa indikator sentimen mulai melemah, belanja juga menurun, dan kekhawatiran terhadap inflasi—setidaknya dalam ekspektasi masyarakat—semakin meningkat,” tambahnya.

Sebagian besar penyebab melemahnya sentimen ekonomi dikaitkan dengan agenda ekonomi Presiden Donald Trump. Kebijakan tarif yang keras terhadap mitra dagang utama AS dan janji pemotongan besar dalam belanja publik telah menyebabkan pemutusan hubungan kerja di sektor federal.

Saat ini, sinyal paling mengkhawatirkan berasal dari survei ekspektasi dan sentimen masyarakat.

Indeks keyakinan konsumen pada Februari mencatat penurunan terbesar dalam hampir empat tahun, menunjukkan penurunan keyakinan yang luas di seluruh kelompok usia dan pendapatan. Sementara itu, ekspektasi inflasi dalam satu tahun ke depan naik ke level tertinggi sejak 2023, didorong oleh kenaikan harga kebutuhan pokok seperti telur serta potensi lonjakan harga akibat tarif baru yang direncanakan Trump.

Di sisi lain, aktivitas bisnis bulan ini tumbuh dengan laju paling lambat sejak September 2023, terutama disebabkan oleh melemahnya sektor jasa. Penjualan ritel pada Januari juga turun ke level terendah dalam hampir dua tahun. Bahkan, proyeksi terbaru GDPNow dari The Fed Atlanta menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi AS berisiko mengalami kontraksi pada kuartal pertama—meski perkiraan ini masih bisa berubah dalam beberapa bulan ke depan.

“Jika sentimen konsumen terus turun, pada titik tertentu kita harus mulai khawatir bahwa konsumsi akan terdampak berikutnya,” ujar Ajay Rajadhyaksha, Ketua Global Riset di Barclays Plc.

Kekhawatiran juga datang dari dunia usaha, baik skala besar maupun kecil.

CEO Ford Motor Co, Jim Farley, memperingatkan bahwa tarif 25% yang diusulkan terhadap produk Kanada dan Meksiko akan “menghancurkan” industri otomotif AS. Chipotle Mexican Grill Inc juga menyatakan keprihatinan terhadap tarif yang akan berdampak pada bahan baku seperti alpukat dan jeruk nipis.

Sementara itu, banyak usaha kecil melaporkan bahwa mereka terpaksa menunda ekspansi, menaikkan harga, dan menghadapi tekanan pada profitabilitas mereka. Survei oleh Harris Poll untuk Bloomberg News menemukan bahwa hampir 60% orang dewasa di AS percaya bahwa tarif Trump akan menyebabkan kenaikan harga barang secara luas.

Hal ini juga dirasakan oleh Arin Schultz, Chief Growth Officer di Naturepedic, perusahaan pembuat kasur organik di Cleveland, Ohio. Perusahaannya baru saja mencatat tahun terbaik berkat tingginya permintaan konsumen, tetapi tarif baru terhadap bahan baku impor bisa berdampak buruk.

“Sebagian besar komponen yang kami gunakan tidak diproduksi di AS. Bahkan jika ada, biaya produksi di dalam negeri akan sangat mahal,” kata Schultz.

Dampak terhadap Kebijakan Federal Reserve

Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun tajam dari puncaknya pada awal tahun, menunjukkan bahwa investor obligasi mulai memperhitungkan kemungkinan bahwa The Fed harus mengalihkan fokusnya dari inflasi ke pertumbuhan ekonomi.

Para pejabat The Fed kini mulai mengakui kemungkinan bahwa pertumbuhan ekonomi bisa melemah meski inflasi masih tinggi. Situasi ini menjadi tantangan klasik bagi bank sentral yang harus menyeimbangkan antara menekan inflasi dan menjaga tingkat lapangan kerja.

Dilema ini memunculkan dua pilihan sulit: Menurunkan suku bunga untuk mendukung pasar tenaga kerja, tetapi berisiko memperburuk inflasi. Namun, jika suku bunga tetap tinggi untuk meredam inflasi, ekonomi dapat terjerumus ke jurang resesi.

Jika merujuk pada sejarah, The Fed cenderung bertindak agresif untuk mengendalikan inflasi. Pada 1970-an dan 1980-an, bank sentral menaikkan suku bunga ke tingkat yang sangat tinggi, yang pada akhirnya meningkatkan angka pengangguran dan menimbulkan tekanan ekonomi besar.

Namun, kali ini The Fed berhasil menekan inflasi tanpa menyebabkan resesi, sebagian besar karena ekspektasi inflasi masih terkendali. Namun, jika ekspektasi tersebut mulai meningkat, bank sentral mungkin harus mempertahankan biaya pinjaman yang tinggi meskipun ekonomi menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

“Mereka mungkin lamban dalam menaikkan suku bunga sebelumnya, tetapi stagflasi adalah tantangan yang jauh lebih besar bagi The Fed,” kata Diane Swonk, Kepala Ekonom di KPMG. “Mereka tidak bisa membiarkan situasi ini berkembang.”

Presiden Trump bersikeras bahwa kombinasi kebijakan pemotongan pajak, deregulasi, dan tarif tinggi akan mendorong investasi besar-besaran dalam perekonomian AS. Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih, Stephen Miran, mengatakan kepada anggota parlemen bahwa AS bisa memiliki “ekonomi yang luar biasa” meskipun tarifnya tinggi.

Namun, para pelaku bisnis tetap skeptis.

“Jika harga naik bagi kami, maka harga juga akan naik bagi pelanggan kami,” kata J.D. Ewing, pemilik perusahaan grosir furnitur kantor COE Distributing di Pennsylvania. “Pemerintah perlu memahami hal ini sepenuhnya. Jika kebijakan tarif diterapkan secara menyeluruh, tidak ada pilihan lain—biaya akan meningkat untuk semua orang.”

(bbn)

No more pages