Logo Bloomberg Technoz

"Sehingga risiko pertama yang harus dihadapi Indonesia adalah mungkin suku bunga di AS masih akan relatif tinggi yang kemudian yang kedua adalah dolar AS menguat," ujarnya.

Terbukti, Gubernur Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, mengatakan bahwa ketidakpastian dalam kebijakan fiskal dapat menyebabkan pemangkasan suku bunga yang lebih sedikit dari perkiraan sebelumnya. Namun, ia masih melihat kemungkinan penurunan suku bunga dalam 18 bulan ke depan.

“Saya pikir ini justru membuat situasi semakin tidak jelas,” ujar Goolsbee pada Kamis (06/02/2025), merujuk pada ketidakpastian kebijakan dan faktor lainnya yang memengaruhi ekonomi AS. “Saya masih yakin bahwa tingkat suku bunga akhir nanti akan jauh lebih rendah dari posisi saat ini, tetapi laju penurunannya mungkin akan lebih lambat karena adanya ketidakpastian ini.”

Chatib melanjutnya, pihaknya sudah memberikan rekomendasi untuk reformasi struktural utnuk menghadapi kondisi tersebut, yakni penyederhanan izin, perbaikan iklim investasi, serta implementasi dari GovTech yang makin cepat.

Sebab, menurut Chatib, digitalisasi bisa mengatasi tantangan dari segi birokrasi. "Jadi langkah-langkah seperti ini yang tadi kami bahas dan Bapak Presiden [Prabowo] mendukung sepenuhnya untuk perbaikan iklim investasi."

Peluang Perang Tarif Trump

Chatib mengatakan, perang tarif dagang antara China dan AS maka akan menyebabkan perpindahan basis produksi dari Negeri Tirai Bambu ke negara-negara lain yang tidak dikenakan tarif, salah satunya Indonesia. Sehingga, Indonesia harus bisa memanfaatkan kesempatan dari peluang relokasi ini.

Dengan demikian, DEN menyampaikan kepada Prabowo untuk memperbaiki iklim investasi, konsistensi dari kebijakan, kepastian usaha. Sebab, bila relokasi ini terjadi, maka posisi Indonesia bisa diuntungkan.

"Sebab ada relokasi dari basis produksi dari China kepada Vietnam dan mungkin kalau Vietnam nanti terlalu penuh akan lari kepada Indonesia. Jadi ada semacam simulasi yang dilakukan dari perhitungannya itu menguntungkan Indonesia. Namun syaratnya adalah bahwa kita harus melakukan reformasi."

China memberlakukan tarif baru pada sejumlah produk Amerika Serikat (AS) beberapa saat setelah Presiden Donald Trump mengenakan tarif 10% pada barang-barang dari Beijing. Berikut ini adalah versi terjemahan dari pernyataan China.

Pada 1 Februari 2025, Pemerintah AS mengumumkan akan memberlakukan tarif 10% pada semua barang China yang diekspor ke AS atas dasar fentanil dan isu-isu lainnya.

Kenaikan tarif sepihak oleh AS secara serius melanggar aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Hal ini bukan hanya, tidak membantu menyelesaikan masalah AS sendiri, tetapi juga merusak kerja sama ekonomi dan perdagangan normal antara China dan AS.

Menurut Undang-Undang (UU) Tarif, UU Kepabeanan, dan UU Perdagangan Luar Negeri Republik Rakyat China, juga UU dan peraturan lainnya, serta prinsip-prinsip dasar hukum internasional, atas persetujuan Dewan Negara, mulai 10 Februari 2025, tarif tambahan akan diberlakukan pada beberapa barang impor yang berasal dari AS.

Berikut hal-hal terkait pembalasan tarif oleh China ke AS:

1. Tarif sebesar 15% akan dikenakan pada batu bara dan gas alam cair. Kisaran barang-barang tertentu ditunjukkan pada Lampiran 1.

2. Tarif sebesar 10% akan dikenakan pada minyak mentah, mesin pertanian, mobil berkapasitas besar, dan truk pikap. Kisaran barang-barang tertentu ditunjukkan pada Lampiran 2.

3. Untuk barang-barang impor yang tercantum dalam lampiran yang berasal dari AS, tarif yang sesuai akan dikenakan berdasarkan tarif yang berlaku saat ini. Kebijakan pengurangan dan pembebasan pajak dan obligasi saat ini tetap tidak berubah, dan tarif tambahan tidak akan dikurangi atau dibebaskan.

(lav)

No more pages