Logo Bloomberg Technoz

Sekjen SPMTN Risyad menuturkan dari jumlah sekitar 1.800 pekerja, mulai Februari 2025 jumlahnya akan berkurang menjadi 1.500.

"Untuk gelombang pertama ini di Januari ada 100. itu karyawan mayoritas kontrak. Dan ya, kita dengar kabar Februari ini akan ada yang lebih besar lagi gelombangnya gitu, yang mengarah ke penutupan perusahaan. Indikasinya yang kita baca juga, untuk menghindari pembayaran THR, gitu," ungkap Risyad.

Meski begitu, Risyad tetap menegaskan pesangon karyawan masih dibayar oleh perusahaan. Ia berharap manajemen dapat melanjutkan operasional eFishery. Pasalnya, eFishery turut bekerjasama dengan puluhan ribu pembudidaya ikan dan udang.

Hal ini tentunya cukup banyak membuat pembudidaya mengalami kesulitan dalam mengakses pakan.

"Kita punya mitra dan klien kita, atau farmer kita, petani-petani kita. Itu yang butuh bantuan di sektor industri itu. Jadi masih akan terus berjalan sih. Kita pengennya tetap kerja lanjut gitu. Dengan harapan operasional tetap akan segera dilanjutkan," pungkasnya.

Kronologi Fraud e-Fishery

Pada pertengahan bulan Desember 2024 dua petinggi eFishery, selain Gibran Huzaifah juga CFO Chrisna Aditya, dicopot dengan sangkaan penyelewengan laporan kinerja dan pendapatan keuangan perusahaan.

Keduanya sejak saat itu diperiksa dan kedudukannya di eFishery, startup unicorn bidang teknologi akuakultur, dibebastugaskan sementara.

Dewan eFishery kemudian menunjuk Adhy Wibisono sebagai CEO sementara dan Albertus Sasmitra pada jabatan CFO sementara perusahaan.

eFishery sempat mencatatkan valuasi perusahaan US$1,4 miliar, dengan dukungan para investor kakap seperti Northstar Group, Temasek Holdings Pte. serta SoftBank. Model valuasi menjadi sasaran kritik karena mendorong pendiri startup menciptakan ekspektasi tidak realistis kepada calon investor atau investor lama.

Dalam keterangan resminya pada 17 Desember lalu, eFishery menyatakan bahwa pergantian kepemimpinan bertujuan untuk meningkatkan tata kelola perusahaan dan telah menjadi perhatian pemegang saham. “Kami memahami keseriusan isu yang sedang beredar saat ini dan kami menanggapinya dengan perhatian penuh,” jelas perusahaan.

Saat proses penyelidikan, Patrick Sugito Walujo atau Patrick Walujo dari Northstar sekaligus CEO GoTo, berbicara dalam sebuah forum bisnis pekan lalu menceritakan kondisi eFishery.

Ia menyebut dugaan laporan keuangan palsu yang diterima investor sebagai aksi memalukan. Meski bukan bagian dari tim yang melakukan investigasi, Patrick menganggap telah terjadi penipuan sistematis di semua lini perusahaan.

Rancangan laporan awal penyelidikan setebal 52 halaman terhadap eFishery, memperlihatkan bahwa manajemen perusahaan menggelembungkan pendapatan hampir US$600 juta hingga kuartal ketiga 2024, dilaporkan Bloomberg News. Pendapatan yang asli diperkirakan pada periode yang sama sebesar US$157 juta, bukan US$752 juta.

Draf laporan juga menyampaikan bahwa eFishery menyampaikan posisi perusahaan untung US$16 juta kepada investor untuk periode  Januari - September tahun lalu. Namun penyelidikan menguak fakta eFishery sejatinya rugi US$35,4 juta.

Laporan awal penyelidikan menyebut bahwa dengan penggelembungan itu lebih dari 75% angka yang dilaporkan adalah palsu. Laporan yang dibuat oleh FTI Consulting ini menemukan penggelembungan dalam penjualan alat pemberi makan ikan, menjadi 400 ribu dari jumlah sebenarnya sebesar 24 ribu.

Penyelidikan ini dilakukan setelah seorang pelapor mendekati seorang anggota dewan dengan tuduhan bahwa data keuangan perusahaan tersebut tidak akurat.

Angka-angka yang tersebut di atas kemungkinan besar akan berubah lebih lanjut, dengan laporan bank, wawancara, dan akun-akun lain yang masih belum ditemukan atau diselesaikan.

Menurut potongan dokumen laporan FTI Consulting, diduga terdapat hasil kinerja keuangan ganda (dual reporting system) dan terjadi sejak tahun 2018. Laporan awal penyelidikan menyebut bahwa dengan penggelembungan itu lebih dari 75% angka yang dilaporkan adalah palsu.

FTI tidak memberikan tanggapan atas laporan yang muncul atas penyelidikan awal eFishery. Gibran dan perwakilannya juga tidak segera menanggapi permintaan wawancara.

(ain)

No more pages