Sebagai respons terhadap perlambatan ini, Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan akan memangkas suku bunga deposito sebesar seperempat poin menjadi 2,75%. Namun, para pembuat kebijakan di Frankfurt masih berhati-hati terhadap inflasi. Data terpisah menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) di Spanyol naik 2,9% bulan ini, lebih tinggi dari perkiraan analis.
Investor kini semakin yakin akan pemangkasan suku bunga ECB, dengan perhitungan yang memperkirakan total pemangkasan sebesar 94 basis poin hingga akhir tahun, dibandingkan 89 basis poin pada Rabu (29/01/2025). Ini berarti ada kemungkinan tiga kali pemotongan suku bunga masing-masing 0,25% dan peluang hampir 80% untuk pemangkasan keempat.
Pasar obligasi merespons dengan kenaikan harga, mendorong imbal hasil obligasi Jerman bertenor 10 tahun turun enam basis poin menjadi 2,53%. Sementara itu, nilai euro melemah 0,2% menjadi sekitar US$1,04, level terendah hari itu.
"Secara keseluruhan, momentum ekonomi telah melemah, yang semakin mendukung pemangkasan suku bunga ECB hari ini dan pelonggaran kebijakan lebih lanjut tahun ini. Namun, jumlah pemangkasan dan kecepatannya akan bergantung pada seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan ekonomi," kata Jamie Rush, Kepala Ekonom Eropa di Bloomberg Economics.
Ketidakpastian atas kebijakan perdagangan Trump sudah mulai berdampak pada dunia usaha. Berdasarkan analisis Bloomberg, diskusi mengenai tarif impor mendominasi laporan keuangan perusahaan bulan ini.
Bagi Jerman, data ekonomi yang mengecewakan ini muncul hanya beberapa minggu sebelum pemilu kilat yang kemungkinan akan menggulingkan Kanselir Olaf Scholz dan membawa Friedrich Merz dari CDU/CSU ke tampuk kekuasaan. Merz berjanji akan menurunkan pajak dan memangkas regulasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
Meskipun pemilu pada 23 Februari nanti diharapkan membawa kebijakan yang lebih pro-pertumbuhan, banyak analis tetap skeptis terhadap dampaknya bagi ekonomi Jerman dan kawasan euro secara keseluruhan.
Di Prancis, perekonomian melambat lebih dari yang diperkirakan para analis, yang sebelumnya hanya memperkirakan stagnasi. Dampak positif dari Olimpiade Paris 2024 sudah memudar, sementara konsumsi rumah tangga dan investasi bisnis mengalami perlambatan.
Masalah utama yang dihadapi Prancis saat ini adalah krisis anggaran, yang memaksa pemerintah menggunakan undang-undang darurat untuk menghindari kebuntuan fiskal. Situasi ini semakin diperumit oleh rendahnya pendapatan pajak dan pertumbuhan ekonomi yang lemah, sehingga defisit fiskal tahun lalu membengkak menjadi sekitar 6% dari PDB.
Perdebatan mengenai anggaran 2025 dijadwalkan akan mencapai puncaknya minggu depan, saat Perdana Menteri baru, François Bayrou, mengajukan proposal kebijakan fiskalnya. Jika gagal mendapatkan dukungan, Bayrou mungkin terpaksa mundur.
Dunia usaha di Prancis semakin vokal dalam menyuarakan ketidakpuasan mereka. Bernard Arnault, CEO LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton SE, menyatakan bahwa kebijakan pajak tambahan yang diajukan pemerintah dapat mendorong investasi keluar dari Prancis.
“Ada kemerosotan nyata dalam perekonomian Prancis,” kata Patrick Martin, Ketua Medef (asosiasi pengusaha Prancis), kepada AJEF pada Rabu. “Banyak pelaku usaha yang merasa frustrasi terhadap situasi politik, dan sebagian besar di antara mereka marah.”
Di antara negara-negara Eropa, Spanyol menjadi satu-satunya yang menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan lonjakan PDB sebesar 0,8% pada kuartal terakhir tahun lalu. Portugal dan Lithuania juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Namun secara keseluruhan, ekonomi Eropa masih dalam kondisi lesu.
“Untuk saat ini, Eropa tampaknya berada dalam kelesuan, dan kami tidak mengharapkan pemulihan yang signifikan selama musim dingin ini,” kata ekonom ING, Bert Colijn, dalam laporannya. “Indikasi awal untuk kuartal pertama menunjukkan bahwa ekonomi kemungkinan akan tetap stagnan. Namun, kami memperkirakan permintaan domestik akan mulai mendorong pertumbuhan kembali sepanjang tahun ini.”
(bbn)


























