Logo Bloomberg Technoz

CEO JPMorgan Chase & Co, Jamie Dimon, memperingatkan adanya tanda-tanda pasar saham AS yang terlalu panas.

Grafik S&P 500. (Sumber: Bloomberg)

"Harga aset terlihat agak melambung," kata Dimon kepada CNBC. "Butuh hasil yang sangat baik untuk membenarkan harga-harga tersebut."

Indeks S&P 500 naik 0,6%, Nasdaq 100 bertambah 1,3%, sementara Dow Jones Industrial Average mencatat kenaikan 0,3%. Sebaliknya, indeks Russell 2000 turun 0,6%. Saham Travelers Cos dan Procter & Gamble Co menguat berkat hasil kinerja yang kuat.

Imbal hasil obligasi 10 tahun AS naik dua basis poin menjadi 4,6%, sementara Indeks Dolar Bloomberg bergerak fluktuatif.

"Pasar bereaksi positif terhadap gelombang awal kebijakan Trump, dengan antusiasme investor yang mengingatkan pada masa sebelum pemilu," ujar Mark Hackett dari Nationwide.
"Jika indeks mencapai rekor baru, hal ini dapat memicu sentimen bullish, meski musim laporan keuangan terakhir cukup bergejolak," tambahnya.

Menurut Matt Maley dari Miller Tabak, jika musim laporan keuangan kali ini menunjukkan hasil yang baik, reli saham dapat bertahan lebih lama. Namun, hal ini membutuhkan lebih dari sekadar "mengalahkan ekspektasi" untuk mendorong kenaikan signifikan.

"Kami tetap optimis dan yakin bahwa laporan keuangan akan mendukung kenaikan ekuitas," ujar tim strategis BlackRock Investment Institute yang dipimpin Jean Boivin dan Wei Li. "Meskipun dalam lingkungan suku bunga tinggi, kami percaya pasar saham dapat terus menguat selama fundamental tetap kuat," katanya.

Setelah indeks S&P 500 melonjak 24% pada 2023 dan 23% di 2024, muncul perdebatan apakah benchmark tersebut dapat kembali mencatatkan performa serupa tahun ini.

"Keuntungan tahunan berturut-turut di atas 20% untuk S&P 500 bukan berarti pasar saham AS pasti akan terkoreksi," kata Jeff Schulze dari ClearBridge Investments. "Selain itu, reli saat ini jauh dari yang terlama tanpa koreksi."

Schulze juga menyoroti bahwa pertumbuhan pendapatan dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar terkonsentrasi pada sejumlah kecil saham. Namun, pada 2025, pendapatan diperkirakan akan lebih tersebar, yang dapat meningkatkan kinerja saham kecil, menengah, dan undervalued.

Solita Marcelli dari UBS Global Wealth Management mengingatkan agar investor tetap fokus pada fundamental pasar yang mendukung ekuitas AS. "Kami tetap menyukai teknologi, utilitas, dan sektor keuangan, serta melihat nilai dalam strategi terstruktur untuk menghadapi volatilitas jangka pendek," ungkapnya.

Sementara itu, "efek Januari" mulai terlihat, dengan saham menunjukkan kinerja kuat sepanjang bulan, menurut John Creekmur dari Creekmur Wealth Advisors.

"Investor kini lebih fokus pada laporan keuangan dan harapan akan pemotongan pajak serta deregulasi dari pemerintahan Trump," ujarnya. "Kekhawatiran tentang pengurangan suku bunga The Fed kini lebih sedikit menjadi perhatian."

(bbn)

No more pages