Logo Bloomberg Technoz

Malaysia tidak berada di bawah tekanan langsung untuk menyesuaikan biaya pinjaman, bahkan saat bank-bank sentral di seluruh dunia beralih ke pelonggaran. Belanja domestik yang tangguh dan jaringan investasi yang terus berkembang akan melindungi negara ini dari volatilitas eksternal.

Pada saat yang sama, inflasi tetap rendah, di mana pemerintah mendorong rencana untuk memangkas subsidi bahan bakar paling populer di negara ini hingga pertengahan 2025.

"Pertumbuhan berpotensi lebih tinggi dari limpahan yang lebih besar dari peningkatan teknologi, aktivitas pariwisata yang lebih kuat, dan implementasi proyek-proyek investasi yang lebih cepat," kata BNM.

Sanjay Mathur, ekonom di Australia & New Zealand Banking Group Ltd, mengatakan BNM memaparkan narasi pertumbuhan yang positif untuk tahun ini. "Ada momentum pertumbuhan yang cukup bagi BNM untuk tetap bertahan di lingkungan global yang bergejolak," imbuhnya.

Bank sentral mengatakan, memasuki tahun ini, inflasi diperkirakan akan tetap terkendali di tengah "kondisi biaya global yang menurun dan tidak adanya tekanan permintaan domestik yang berlebihan."

Inflasi diperkirakan akan mencapai rata-rata 2% hingga 3,5% pada tahun 2025, kata pemerintah, seiring dengan komitmennya untuk melakukan reformasi subsidi guna memperkuat posisi fiskal. Langkah-langkah seperti bantuan tunai untuk orang yang membutuhkan dan penetapan harga dua tingkat diharapkan mampu mengendalikan inflasi.

Menurut BNM, ringgit akan terus mendapat dukungan yang berkelanjutan dari prospek ekonomi Malaysia yang menguntungkan, reformasi struktural dalam negeri, dan inisiatif-inisiatif untuk mendorong arus modal masuk.

Mata uang Malaysia merupakan yang berkinerja terbaik di seluruh pasar negara berkembang tahun lalu, di mana BNM mendorong perusahaan untuk memulangkan pendapatan mereka dari luar negeri. Mata uang ini menguat pada Selasa (21/1/2025) karena para trader berspekulasi tidak akan ada tarif Trump yang agresif dalam waktu dekat.

(bbn)

No more pages