Logo Bloomberg Technoz

Lanskap itu mungkin menggambarkan, kendati sentimen pasar global relatif lebih menguntungkan bagi pasar negara berkembang, akan tetapi rupiah masih akan terbebani oleh ketidakpastian baru yang dipicu oleh keputusan penurunan bunga acuan BI rate pada Rabu kemarin.

Rupiah kemarin ditutup melemah di Rp16.360/US$, menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terdalam, ketika indeks saham ditutup hijau dan harga obligasi naik tersulut euforia BI rate. Euforia yang dinilai oleh analis pasar mungkin akan berlangsung jangka pendek.

Secara teknikal nilai rupiah berpotensi melemah, dengan laju pelemahan yang sudah terbatas di kisaran sempit. Koreksi terdekat adalah menuju Rp16.380/US$ yang menjadi level support pertama. Sedangkan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp16.400/US$.

Apabila kembali break kedua support tersebut, rupiah berpotensi melemah makin jauh menuju Rp16.410/US$ sampai dengan Rp16.450/US$ sebagai support terkuat.

Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati pada level Rp16.340/US$ dan selanjutnya Rp16.300/US$.

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Jumat 17 Januari 2025 (Riset Bloomberg Technoz)

Pasar negara berkembang mendapat angin segar lanjutan setelah data inflasi CPI Amerika yang melegakan pasar. Adalah pernyataan pejabat The Fed yang menjadi pangkalnya.

Deputi Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan pada CNBC, bahwa The Fed bisa menurunkan suku bunga lagi pada paruh pertama tahun 2025 apabila data inflasi AS terus membaik. Ia juga tidak sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan pemotongan suku bunga pada Maret. 

"Data inflasi AS Desember sesuai dengan yang diperintahkan 'dokter' untuk menyembuhkan pasar dari ketakutan FOMC baru-baru ini," kata Damian McIntyre, Portfolio Manager di Federated Hermes, dilansir oleh Bloomberg. "Kami memperkirakan inflasi akan terus turun secara tahunan dalam beberapa bulan pertama tahun 2025."

Yield Treasury, surat utang AS, terpangkas menyusul pernyataan dovish itu. Yield 10 tahun turun ke 4,61% setelah sebelumnya sempat menyentuh 4,79%. Sedangkan tenor 2 tahun, juga turun ke level 4,23% setelah sebelumnya di 4,36%.

Di pasar swap, para traders menaikkan ekspektasi penurunan bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC Maret nanti, dengan probabilitas 32%. Sedangkan untuk FOMC akhir bulan ini, para traders masih memperkirakan Jerome Powell dan kolega akan menahan Fed fund rate.

Hari ini, Bank Indonesia akan merilis data terbaru Survei Kegiatan Dunia Usaha dan indeks manufaktur PMI Bank Indonesia. Kemarin, BI melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) per akhir November sebesar US$ 424,1 miliar per akhir November 2024. Dengan asumsi US$ 1 setara dengan Rp 16.311 seperti kurs acuan BI periode 15 Januari, maka ULN Indonesia ekuivalen Rp 6.917,49 triliun.

ULN Indonesia meningkat dibandingkan posisi Oktober 2024 yang sebesar Rp 423,4 miliar. Jadi dalam sebulan, ULN Indonesia bertambah sekitar US$ 700 juta.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), ULN November 2024 tumbuh 5,4%. Lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Oktober 2024 sebesar 7,7% yoy. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ULN sektor publik dan penurunan ULN swasta.

Bank sentral menyerah

Langkah bank sentral di kawasan Asia yang mengejutkan, seperti Bank Indonesia yang tak terduga menurunkan bunga acuan atau Bank of Korea yang menahan suku bunganya demi melindungi won, juga mungkin bank sentral India yang kemungkinan juga memangkas bunga, mencerminkan pertahanan yang mulai pupus dalam melawan fenomena strong dollar.

"Saya memperkirakan bank-bank sentral di Asia akan segera menyerah dalam upaya mempertahankan secara agresif mata uang mereka jika Donald Trump [Presiden AS terpilih] terus menerapkan tarif dalam rezim dolar yang kuat," kata Alex Loo, Stratgeist TD Securities, dilansir oleh Bloomberg.

Ia menilai, bank sentral di Asia kemungkinan akan lebih memperhatikan penarikan cadangan devisa mereka dan jika perdagangan mulai melambat secara global, itu. berarti lebih sedikit lagi dolar AS yang bertambah di cadangan devisa mereka.

Sebelumnya, para ekonom dan pelaku pasar ramai-ramai mengkritik langkah BI yang dinilai terburu-buru memangkas bunga acuan ketika rupiah masih begitu rapuh terancam dolar AS.

Namun, sebagian analis bisa memahami langkah BI itu. "Kami percaya bahwa langkah BI mengambil risiko besar dalam jangka pendek itu disetir oleh kepercayaan terhadap fundamental makro Indonesia. Yang pertama adala, langkah Kementerian Keuangan menginjak pedal rem belanja pada Desember melalui pembatalan pencairan Dana Alokasi Umum dan Khusus sekitar Rp140 triliun hingga Rp150 triliun untuk memastikan kehati-hatian fiskal," kata Lionel Priyadi dan Muhammad Haikal dari Mega Capital Sekuritas.

Hal kedua, perkembangan neraca dagang di mana keseluruhan kuartal IV-2024 nilai surplus mencapai US$9,09 miliar dari sebesar US$6,5 miliar di kuarta sebelumnya.

Kenaikan surplus pada kuartal akhir itu terjadi kendati pada Desember nilai surplus mengecil jadi US$2,24 miliar.

"Perkembangan itu menambah probabilitas bahwa defisit transaksi berjalan pada keseluruhan tahun 2024 terjaga di kisaran 0,6%-0,7% dari PDB. Faktanya, keputusan BI memangkas bunga acuan mungkin akan membawa transaksi berjalan defisitnya terkendali di kisaran 0,8%-1% dari PDB pada 2025 meski rupiah melemah," jelas Lionel.

(rui)

No more pages