Selain itu, pasar modal di berbagai negara berkembang berada di bawah tekanan dalam dua bulan terakhir di tengah kekhawatiran atas potensi kenaikan tarif terhadap barang impor ke Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump.
"Akibatnya, Indonesia mengalami arus modal keluar sekitar US$0,75 miliar sejak pertengahan November dan rupiah terdepresiasi sebesar 1,39% secara bulanan atau month to month dari Rp15.770 per dolar Amerika Serikat [AS] menjadi Rp15.990 per dolar AS dalam 30 hari terakhir. Mengingat besarnya tekanan pada Rupiah, kami memandang BI perlu menahan suku bunga acuannya di 6% dalam RDG bulan ini," ujar Riefky dalam laporannya, dikutip Rabu (18/12/2024).
Senada dengan itu, Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Ryan Kiryanto juga menilai BI akan tetap mempertahankan BI Rate pada level 6%, khususnya mengingat tekanan eksternal yang kuat dan melemahkan posisi nilai tukar rupiah.
Ryan menilai penahanan suku bunga acuan tidak akan memberikan efek negatif karena prioritas akhir tahun adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Ini juga mengingat kebutuhan dolar AS untuk berbagai keperluan jelang tutup tahun dan tutup buku 2024 sehingga opsi terbaik adalah BI Rate tetap ditahan di level 6%," ujar Ryan.
Di lain sisi, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan Bank Indonesia memiliki ruang untuk menurunkan BI Rate.
Namun, peluangnya menjadi lebih terbatas jika melihat perkembangan inflasi dalam negeri yang rendah, surplus neraca dagang yang meningkat karena anjloknya impor yang menunjukkan ekonomi domestik cenderung melemah, dan sudah masuknya kembali dana asing ke pasar surat berharga negara (SBN) pada Desember 2024 meski terbilang masih kecil. Selain itu, pasar saham masih tercatat terjadi net outflow sejak Oktober 2024.
Awalnya, Josua mengatakan Bank Indonesia berpotensi untuk memangkas suku bunga BI-rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% jika sinyal pemangkasan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) pada Federal Open Market Committee (FOMC) Desember 24 makin kuat, dan rupiah tidak tembus Rp16.000 per dolar AS.
"Namun sejalan dengan perkembangannya menuju RDG Desember 2024, ruang pemotongan menyempit karena pelemahan rupiah akibat menguatnya US Dollar Index setelah bank sentral dunia selain bank sentral AS Federal Reserves atau the Fed cenderung lebih dovish dalam kebijakan moneternya," ujar Josua.
Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg hingga Senin (16/12/2024) pagi, 15 dari 27 ekonom/analis memperkirakan BI Rate akan bertahan pada 6%. Sedangkan 12 lainnya memperkirakan suku bunga acuan turun 25 bps menjadi 5,75%.
Porsi yang memperkirakan BI Rate tetap adalah 55,55% dan yang mengestimasikan pemangkasan 25 bps adalah 44,44%.
(dov/lav)


























