Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, investor juga masih mencerna rilis data terbaru di AS. Malam tadi waktu Indonesia, US Bureau of Labor Statistics mengumumkan inflasi produsen di Negeri Paman Sam pada November sebesar 0,4% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Lebih tinggi ketimbang Oktober yang sebesar 0,3% mtm dan konsensus pasar dengan perkiraan 0,2% mtm.

Perkembangan ini membuat peluang penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral Federal Reserve menjadi berkurang, meski masih sangat tinggi. Mengutip CME FedWatch, probabilitas pemangkasan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,25-4,5% pada rapat 18 Desember adalah 96,7%. Turun dibandingkan sehari sebelumnya yaitu 97,5%.

Emas adalah aset yang tidak  memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga masih tinggi.

Analisis Teknikal

Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas masih bertahan di zona bullish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 53,88. RSI di atas 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bullish.

Adapun indikator Stochastic RSI ada di 52,34. Menempati area beli (long) meski belum cukup kuat.

Meski demikian, sepertinya tekanan terhadap harga emas belum selesai. Target support terdekat adalah US$ 2.677/troy ons yang merupakan Moving Average (MA) 5. Jika tertembus, maka MA-10 di US$ 2.660/troy ons bisa menjadi target berikutnya.

Sementara itu, cermati pivot point di US$ 2.704/troy ons. Penembusan di titik ini berpotensi mengangkat harga emas ke rentang US$ 2.722-2.743/troy ons.

(aji)

No more pages