Logo Bloomberg Technoz

Merespons isu tersebut, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan Pemerintah Indonesia akan segera bertolak ke AS untuk menawarkan skema limited FTA agar mineral kritis RI tetap mendapat jatah insentif tersebut.

“Lusa saya akan ke Amerika, [bertemu] dengan Tesla juga. Kami akan bicarakan itu, karena kalau tidak, mereka [AS] rugi juga. Sebab, dengan green energy yang kita [Indonesia] punya untuk memproses perkursor dan katoda, mereka [AS] tidak akan dapat dari Indonesia [kalau tidak ada FTA]. Makanya, kami akan usulkan limited FTA dengan AS,” tegas Luhut di sela konferensi pers Update Kerja Sama Indonesia-Tiongkok, Senin (10/4/2023). 

Indonesia, dalam hal ini, akan meniru manuver Jepang dalam mengamankan posisi mereka sebagai penerima insentif fiskal tersebut. Dua pekan lalu, Negeri Sakura menandatangani FTA terbatas khusus untuk mineral kritis dengan AS dalam Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik atau Indo-Pacific Economic Framework (IPEF).

Produsen nikel terbesar dunia pada 2022. (Sumber: Bloomberg)

“Memang, [insentif dalam skema] IRA itu membuat Amerika menjadi lebih menarik. Misal harga gas lagi naik, sehingga cost listrik di Eropa sekarang jadi tambah mahal. Akibatnya, banyak [perusahaan energi di Eropa] yang pindah ke Amerika. Namun, dalam konteks ini, [posisi Indonesia] masih oke. Indonesia masih jadi pilihan karena kita punya banyak sumber energi,” jelas Luhut.

Dalam kaitan itu, dia percaya diri usulan limited FTA yang ditawarkan RI akan membuat AS melunak dan memasukkan mineral kritis asal Indonesia dalam skema IRA. Bahkan, dia menegaskan Washington justru akan dirugikan bila tidak mencantumkan Indonesia. 

“Kita tergantung Amerika. Kalau Amerika mau [memasukkan RI dalam skema IRA], kita suka. Kalau dia enggak mau, ya mau diapain? Namun, yang rugi Amerika juga nanti. [Untuk itu,] saya kira [AS] akan ada limited FTA dengan kita,” tuturnya.

Saat ditanya apakah isu tersebut akan memengaruhi negosiasi investasi Tesla Inc. di Tanah Air, Luhut kembali menegaskan korporasi besutan Elon Musk itu tidak akan punya pilihan sumber bahan baku nikel selain dari Indonesia.

“Ya nanti kita lihat saja. Dia [Tesla] kan mau cabut juga dari China. Ya, dia pilihannya ke mana?” kata Luhut. 

Smelter nikel milik PT Merdeka Battery Materials Tbk (Dok. Perseroan)

Rantai Pasok Nikel

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid sebelumnya menyebut Indonesia tengah berupaya menjaring kerja sama dengan perusahaan multinasional untuk membangun rantai pasok nikel terpisah antara China dan non-China.

"Indonesia adalah teman bagi China dan negara Barat. Kami menyediakan mineral penting bagi China, AS, dan Uni Eropa [UE]. Kami berupaya memastikan memiliki portofolio inklusif baik China maupun non-China dalam sektor pertambangan nikel guna mencapai kesepakatan perdagangan yang adil dan saling menguntungkan,” ujarnya, awal pekan lalu.

Arsjad, yang notabene adalah Presiden Direktur Indika Energy, menyebut Indonesia sebenarnya sanggup memenuhi kebutuhan bahan baku baterai listrik dan KBLBB untuk AS.

“Indonesia memiliki sepertiga dari dari total cadangan nikel dunia yang menempatkan Indonesia pada posisi pertama. Nikel menjadi bahan yang penting untuk produksi baterai kendaraan listrik,” ujarnya.

Untuk itu, Kadin mendorong Pemerintah AS agar mau mengakui peran Indonesia sebagai mitra untuk pengembangan industri KBLBB dan baterai di bawah pakta Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik, setara dengan negara-negara yang memiliki FTA bilateral dengan AS.

"Kami sedang berdiskusi tentang IPEF dan semangat perjanjian itu adalah kerja sama. Jika Amerika mengecualikan [Indonesia dan Asean dari skema IRA], rasanya sangat tidak adil," ujar Arsjad.

Supplier komponen baterai (Sumber: Bloomberg)

Dalam industri pengembangan kendaraan listrik, Kadin juga mengajak AS maupun UE untuk menaruh kepercayaan pada Indonesia dan negara Asean lainnya. Dengan peran penting Indonesia dalam rantai pasokan kendaraan listrik, Arsjad optimistis kawasan Asia Tenggara akan menjadi mitra strategis baik AS, UE, maupun China di sektor energi bersih.

“Langkah ini diharapkan dapat memperkuat hubungan ekonomi dan politik bagi Asean terhadap global, serta memberikan manfaat bagi industri dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan,” tuturnya.

Sekadar catatan, berbagai negara telah berinvestasi di Indonesia pada sektor pertambangan, khususnya untuk pengembangan kendaraan listrik dan baterai. Beberapa diantaranya, yaitu LG, SK Group, Samsung, dan Hyundai.

Ketiganya  merupakan investor penting dalam penghiliran industri nikel termasuk katoda, sel baterai, dan produksi kendaraan. Hadir juga LG Energy Solution yang sedang membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia dengan produsen mobil listrik Hyundai.

(wdh)

No more pages