Logo Bloomberg Technoz

Bagi Apple, bioskop merupakan cara untuk membangun kesadaran akan layanan streaming Apple TV+. Layanan streaming film ini diperkirakan memiliki 20-40 juta pelanggan, lebih sedikit dibandingkan dengan saingannya seperti Netflix dan Disney+.

Apple masih belum menemukan cara untuk mendistribusikan film-film ini di bioskop. Perusahaan ini tidak memiliki keahlian internal untuk merilis film di ribuan bioskop di seluruh dunia sekaligus, oleh karena itu mereka telah mendekati distributor pihak ketiga.

Langkah pertama yang harus diambil untuk mewujudkan rencana ini adalah mencapai kesepakatan tentang biaya distribusi dan anggaran pemasaran dengan mitra potensial. Studio film dapat menghabiskan US$100 juta atau lebih untuk memasarkan judul-judul film terbesar mereka, jauh lebih banyak daripada yang dihabiskan oleh layanan streaming untuk mempromosikan acara atau film baru.

Paramount Pictures akan merilis film Scorsese di bioskop karena proyek ini berasal dari studio tersebut, dan akan memungut biaya distribusi sebesar 10%. Studio ini belum setuju untuk mendistribusikan judul-judul lain untuk Apple.

Seperti kebanyakan layanan streaming, Apple TV+ menghabiskan lebih banyak anggarannya untuk acara TV. Kesuksesan besar pertamanya adalah serial komedi Ted Lasso.

Namun Apple telah mendanai film sejak awal berdirinya studio Hollywood dan ambisi produsen ponsel pintar ini di bidang film semakin besar sejak memenangkan Academy Award untuk film terbaik untuk CODA tahun 2021. Apple mengakuisisi film tersebut di Sundance Film Festival dengan rekor US$25 juta dan mendistribusikannya secara serentak di bioskop dan TV+.

Ilustrasi Bioskop. (Photo by Henry & Co.via pexels.com)

Rencana Apple ini bakal jadi kabar gembira bagi jaringan bioskop yang masih berjuang untuk pulih dari pandemi. Penjualan tiket masih sekitar sepertiga di bawah level tahun 2019 dan dua jaringan bioskop terbesar sedang mengalami kesulitan keuangan.

AMC Entertainment Holdings Inc, operator bioskop terbesar di dunia, telah berusaha mengumpulkan lebih banyak uang dengan menjual saham, sementara saingannya, Cineworld Group Plc, mengajukan pailit tahun lalu. Kedua jaringan bioskop ini telah berulang kali menyalahkan kelangkaan film sebagai penyebab keterpurukan mereka, daripada kurangnya minat penonton untuk kembali ke bioskop.

Namun pasokan film bakal lebih banyak. Amazon, yang mengakuisisi Metro-Goldwyn-Mayer, studio di balik film-film James Bond, senilai US$8,5 miliar, berencana  membuat 12-15 film setiap tahun yang akan dirilis di bioskop, Bloomberg News melaporkan tahun lalu.

Paramount, Walt Disney Co. dan Warner Bros. Discovery Inc. ingin meningkatkan produksi film mereka untuk bioskop setelah bereksperimen dengan mendistribusikan film pada layanan streaming saja.

Satu-satunya pengecualian dalam kembalinya film ke bioskop ini adalah Netflix Inc. yang ingin filmnya muncul di bioskop dan online pada saat yang sama, atau dalam beberapa minggu setelah tayang di steaming film. Jaringan bioskop besar telah menolak pengaturan ini. Netflix menghabiskan lebih banyak uang untuk film orisinal daripada Amazon atau Apple.

Menurut Geetha Ranganathan, analis senior dari Bloomberg Intelligence, investasi raksasa teknologi ini dapat membantu box office domestik kembali ke level sebelum pandemi sebesar US$ 111 miliar.

(bbn)

No more pages