Logo Bloomberg Technoz

Cadangan Devisa Jeblok, Haruskah BI Rate Naik?

Ruisa Khoiriyah
05 April 2024 12:30

Ilustrasi Dolar AS (Sumber: Bloomberg)
Ilustrasi Dolar AS (Sumber: Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Penurunan tajam cadangan devisa Indonesia pada Maret lalu akibat upaya intervensi rupiah, membunyikan alarm peringatan lebih keras bagi para pelaku pasar terkait potensi kenaikan BI rate.

Kejadian Oktober ketika Bank Indonesia secara mengejutkan mengerek bunga acuan, bisa terulang, terutama bila tekanan pelemahan rupiah semakin berlanjut ke depan.

Nilai cadangan devisa sudah terkuras US$6 miliar hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini ketika rupiah bahkan masih mencatat pelemahan 3% pada periode yang sama. Penurunan nilai cadangan devisa sudah berlangsung sejak Januari dan memuncak pada Maret lalu, anjlok US$3,6 miliar yang menjadi penurunan bulanan terbesar sejak Mei 2023.

Meski Bank Indonesia menyebut posisi cadev Maret tersebut masih memadai, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor; Namun, tren penurunan cadev yang kian besar patut diwaspadai.

Berkaca pada keputusan mengejutkan BI pada Oktober lalu ketika BI rate mendadak dinaikkan jadi 6% karena kejatuhan rupiah yang nyaris menyentuh Rp16.000/US$ di pasar spot, dilatarbelakangi oleh penurunan nilai cadangan devisa yang dalam.