Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, dari sisi reasuransi, Ibrahim memproyeksikan pertumbuhan positif dari aspek premi dan klaim dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 6,2% dan 10,3%. Tahun lalu, premi reasuransi mencapai Rp 24,3 triliun, sementara klaim tercatat sebesar Rp 13,2 triliun.   

“Kita tahu peranan reasuransi sebagai mitigasi risiko dari bursa asuransi sendiri dan di 2023 pertumbuhannya positif dua-duanya (premi dan klaim). Itu diharapkan jadi insight bahwa industri asuransi, terlepas dari berbagai tantangan, masih memiliki struktur yang cukup progresif dan menjanjikan,” tambahnya. 

Lebih lanjut, Ibrahim memaparkan sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai oleh industri asuransi. Secara umum, industri asuransi juga menghadapi tantangan dari segi sumber daya manusia berupa keterbatasan tenaga aktuaris yang dapat mengakibatkan fungsi penghitungan risiko asuransi tidak berjalan secara optimal. 

“Institusi yang mesinnya adalah aktuaris, ironisnya, kekurangan aktuaris. Itu menjadi mata rantai dari risiko yang mungkin terjadi karena fungsi aktuaris yang seharusnya bisa menghitung potensi risiko pricing secara tepat kemudian tidak berfungsi secara optimal,” kata Ibrahim. 

Bagi asuransi umum, katanya, tantangan terletak pada kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Hal ini dikarenakan asuransi umum sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek makro ekonomi. 

“Secara global, kinerja makro ekonomi penuh dengan ketidakpastian seperti dengan adanya kasus Silicon Valley Bank sehingga sektor keuangan itu harus sangat berhati-hati terhadap respon pasar,” katanya. 

Ibrahim juga mengimbau industri asuransi umum untuk tetap waspada terhadap prediksi pelemahan ekonomi dan resesi global meskipun risiko terjadinya resesi di Indonesia tidak sebesar negara lain, yaitu sebesar 2% per 20 Maret 2023. Selain itu, lanjutnya, suku bunga yang diprediksi sebesar 5,75% hingga akhir 2023 juga perlu diantisipasi. 

Meskipun demikian, Ibrahim menilai terdapat banyak aspek pertumbuhan yang dapat mendorong asuransi umum, salah satunya ialah commercial property price index yang relatif stabil untuk perkantoran dan area hunian. 

“Di bagian residential price index, begitu harga rumahnya turun otomatis kredit kepemilikan rumah (KPR) juga mengucur, geliat dari perekonomian akan tumbuh. Itu  yang kemudian mendorong tumbuhnya asuransi (umum),” jelasnya.  

Hal ini, kata Ibrahim, juga didorong oleh mortgage rate untuk  rumah, apartemen, dan pertokoan yang relatif menurun meskipun suku bunga Bank Indonesia naik, serta pertumbuhan kredit properti dengan non-performing loan (NPL) yang relatif terkendali. 

Dari sisi asuransi jiwa, Ibrahim menekankan perlu adanya persiapan dalam menghadapi aging population meskipun Indonesia masih bisa menikmati bonus demografi. 

“Jumlah (bonus demografi) akan terus turun. Pada 2030 hingga 2035 diprediksi bonus demografi ini akan berkurang dan pada saat itulah kita akan terpressure dengan kebutuhan pembiayaan elderly jangka panjang. Artinya, kalau kita tidak menyiapkan dari sekarang, otomatis itu akan jadi beban fiskal yang luar biasa dari sisi asuransi jiwa atau kesehatan,” jelasnya.     

(tar/frg)

No more pages