Logo Bloomberg Technoz

Mengenal Konsep Crowdsourcing Ala Kawal Pemilu

Redaksi
13 February 2024 10:00

Peserta disabilitas mencoblos saat simulasi pemungutan suara pemilu 2024 di Jakarta, Rabu (17/1/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Peserta disabilitas mencoblos saat simulasi pemungutan suara pemilu 2024 di Jakarta, Rabu (17/1/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kawal Pemilu adalah inisiatif penjaga hasil suara dan dalam penyelenggaraan Pemilu 2024 yang berlangsung besok, Rabu (14/2/2024) mereka mengajak seluruh publik untuk menjadi bagian dari pengawasan perhitungan suara.

Konsep ini dikenal dengan Crowdsourcing atau mengajak peran serta publik dalam mengaktifkan aplikasi dan inisiatif proyek Kawalpemilu.org.

Crowdsourcing atau urun daya telah banyak menjadi kekuatan besar di ranah teknologi. Seperti halnya aplikasi microblogging Twitter, yang telah berganti menjadi X usai diakuisisi miliarder Elon Musk, atau media sosial lain.

Urun daya dapat didefinisikans sebagai praktik yang dilakukan oleh banyak orang untuk mendapatkan pengetahuan, barang, atau jasa yang dibutuhkan. Istilah crowdsourcing merupakan kombinasi dari crowds dan outsourcing dan diciptakan pada tahun 2006 oleh penulis majalah Wired, Jeff Howe, dalam artikelnya yang berjudul "The Rise of Crowdsourcing."

Crowdsourcing juga dapat diaplikasikan dalam pendanaan, seperti perusahaan investasi. Hal yang pernah dilakukan oleh salahs atu pemain profesional New York Jets, Aaron Rodgers. Ia mengajak para penggemar mengumpulkan dana di Online  Sports Database, entitas bisnis milik Rodgers.