Logo Bloomberg Technoz

Dibandingkan dengan banyak negara lain yang suku bunga depositonya mencapai lebih dari 5,5%, angka 0,2% mungkin tampak remeh. Namun di Jepang, kenaikan tersebut terjadi bersamaan dengan perubahan pola pikir konsumen yang menyebabkan masyarakat secara aktif mengejar keuntungan yang lebih baik untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Perubahan tersebut terlihat jelas dalam sebuah seminar di cabang Mizuho Bank di Yaesuguchi, pusat Tokyo, bulan ini. Peserta seminar tersebut adalah sekelompok orang yang muak dengan rendahnya suku bunga deposito yang ditawarkan, dan ingin mendengar tentang reformasi rekening tabungan pensiun bebas pajak, yang dikenal sebagai NISA, dan bagaimana mereka dapat menginvestasikan tabungan mereka di dalamnya.

"Saya sedang memikirkan untuk memindahkan sebagian uang saya dari deposito bank untuk investasi," kata Keiichi Tonoike, seorang pensiunan berusia 75 tahun. "Suku bunga deposito bank kecil, saya pikir dividen saham lebih baik."

Bagi Mayumi Iijima, kelahiran anaknya baru-baru ini membuatnya merasa harus meningkatkan investasinya demi imbal hasil yang lebih baik.

"Saya perlu memikirkan tentang masa depan. Saya harus melakukan sesuatu — tidak hanya menaruh uang di bank dalam deposito," kata perempuan berusia 38 tahun itu.

Menyimpan Uang Tunai

Perbandingan penggunaan uang warga Jepang. (Sumber: Bloomberg)

Selama bertahun-tahun, banyak orang Jepang yang merasa puas dengan menyimpan lebih dari separuh aset mereka dalam bentuk uang tunai dan deposito. Aksi tersebut dilakukan dengan keyakinan bahwa karena deflasi, mereka tidak akan kehilangan daya beli.

Sekarang, dengan inflasi yang terus melampaui target harga Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ), dan bank sentral yang mendekati akhir rezim suku bunga negatif, muncul pemahaman bahwa konsumen harus melakukan lebih dari sekadar menaruh uang mereka di bank atau rumah.

Bagi bank-bank Jepang, citra baik karena terlihat memberikan keuntungan bagi nasabah dan meningkatkan suku bunga deposito sebelum mereka menaikkan suku bunga pinjaman mungkin menjadi salah satu pendorong di balik kenaikan suku bunga deposito 10 tahun.

"Saya rasa mereka mengambil tindakan ini untuk menghindari kemungkinan reaksi publik jika mereka mempertahankan suku bunga deposito meskipun terjadi kenaikan suku bunga jangka panjang," kata Nana Otsuki, peneliti senior di Pictet Asset Management Japan Ltd.

Otsuki mengatakan rekening NISA baru, yang berinvestasi dalam saham Jepang dan reksa dana, mungkin menarik bagi banyak orang yang ingin mengalahkan inflasi.

Yen Jepang (Sumber: Bloomberg)

"Jika upah di Jepang terus meningkat, menyebabkan ekonomi yang solid dan kenaikan harga saham, maka wajar untuk mengasumsikan bahwa uang masyarakat akan beralih ke produk investasi dari deposito bank," katanya. "Beberapa bank mungkin akan melihat penurunan deposito mereka lebih cepat daripada yang lain, mungkin memicu persaingan untuk mendapatkan nasabah dengan tingkat deposito yang lebih tinggi."

Upaya aktif untuk menarik deposito bank juga merupakan perubahan pola pikir bagi bank-bank Jepang. Di bawah rezim suku bunga negatif BOJ, deposito tidak diperlukan karena bank harus membayar untuk menyimpan uang berlebih di cadangan BOJ.

Kini, bank-bank melihat deposito sebagai sumber pendanaan murah ketika BOJ mulai menaikkan suku bunga. Sumber yang tak ingin identitasnya diketahui mengatakan beberapa bank telah menjadikan penarikan deposito baru sebagai salah satu misi pegawai cabang.

Meskipun demikian, bagi banyak nasabah, bank-bank harus berbuat lebih banyak, tidak hanya menawarkan suku bunga 0,2%.

"Saya tidak melihat suku bunga 0,2% sebagai hal yang menarik," kata Kenji Endo (60 tahun) pada seminar Mizuho. "Saya sudah puluhan tahun tidak memperhatikan suku bunga deposito. Mereka tidak naik."

(bbn)

No more pages