Logo Bloomberg Technoz

“Kita berada dalam kondisi darurat dan sedang mendekati titik tanpa jalan kembali bagi Israel,” kata Eisenkot dalam sebuah upacara di kediaman presiden pada Minggu. Ia merujuk pada konflik yang belum terselesaikan dan krisis diplomatik yang membayangi negara tersebut. “Kita harus membentuk pemerintahan darurat nasional, dan hal ini membutuhkan langkah-langkah politik yang kreatif dan tidak konvensional,” tambahnya.

Upaya Eisenkot untuk menggulingkan Netanyahu kerap dibandingkan dengan keberhasilan bersejarah Peter Magyar mengalahkan Viktor Orban di Hungaria. Netanyahu dan Orban sama-sama telah berkuasa selama lebih dari 15 tahun, menjalin hubungan erat ketika Israel menghadapi isolasi internasional yang semakin dalam, serta menuai kritik karena berupaya melemahkan independensi peradilan dan kebebasan media demi mengonsolidasikan kekuasaan.

Namun, realitas politik di kedua negara sangat berbeda. Di Hungaria, Partai Tisza yang dipimpin Magyar berhasil meraih mayoritas dua pertiga kursi parlemen secara langsung. Dengan demikian, Magyar tidak perlu melalui proses tawar-menawar koalisi dan dapat melantik pemerintahan dalam hitungan pekan. Sementara itu, pemilu Israel pada 27 Oktober membuat Eisenkot maupun Netanyahu sama-sama gagal mencapai 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk koalisi pemerintahan yang stabil.

Eisenkot, yang tidak memiliki pengalaman dalam menavigasi negosiasi koalisi di tengah lanskap politik Israel yang terfragmentasi, harus memperbesar perolehan 48 kursi blok oposisi agar melampaui blok pendukung Netanyahu yang memiliki 53 kursi.

Hal itu mengharuskannya merangkul salah satu atau kedua partai ultra-Ortodoks, yakni Shas dan United Torah Judaism. Namun, kedua partai tersebut menentang kewajiban dinas militer bagi pria ultra-Ortodoks, sementara kubu Eisenkot telah berjanji untuk memberlakukan kebijakan tersebut.

Sebagai alternatif, Eisenkot dapat mengandalkan partai-partai Arab Israel. Namun, sikap partai-partai tersebut terkait pengakuan Israel sebagai negara Yahudi dan penetapan Hamas sebagai organisasi teroris telah memicu penolakan dari sebagian besar partai Yahudi.

“Eisenkot benar-benar meyakini bahwa ada kebutuhan mendesak untuk mengganti pemerintahan Netanyahu. Ia berupaya bergerak secepat mungkin untuk membentuk pemerintahan minoritas yang terdiri dari 48 anggota blok oposisi, yang kemungkinan membutuhkan dukungan dari partai-partai Arab Israel,” kata Barak Seri, seorang analis politik yang pernah menjadi penasihat sejumlah menteri, termasuk Ehud Barak dan Aryeh Deri.

Pemimpin oposisi tersebut memiliki waktu empat pekan untuk membentuk pemerintahan, dengan opsi perpanjangan selama dua pekan. Setelah itu, ia akan berupaya memperluas dukungan pemerintahannya dengan merangkul partai-partai ultra-Ortodoks, meskipun proses negosiasinya diperkirakan akan berlangsung alot.

Pemimpin Partai Yashar, Gadi Eisenkot, menang sementara di Pemilu Israel. (Sumber: Kobi Wolf/Bloomberg)

Namun, strategi tersebut menghadapi hambatan besar dari dalam kubunya sendiri. Avigdor Liberman, pemimpin partai sayap kanan Israel Beytenu, telah menegaskan penolakannya untuk mengandalkan partai-partai Arab dalam membentuk pemerintahan, bahkan untuk sementara waktu.

Peluang terbentuknya pemerintahan persatuan nasional bersama Netanyahu pun tampak hampir tidak ada.

Dalam pernyataan melalui video pada Sabtu, Netanyahu menyerukan persatuan dengan mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebutuhan mendesak saat ini. Namun, ia juga memperingatkan bahwa “dalam pekan mendatang, ada pihak-pihak yang berencana melantik pemerintahan dengan dukungan para pendukung terorisme,” merujuk pada partai-partai Arab Israel.

Sejak hari pemungutan suara, Netanyahu berulang kali menuding warga Arab Israel telah “mencuri” kemenangan dalam pemilu. Tuduhan tersebut berkaitan dengan penyelidikan Shin Bet mengenai dugaan campur tangan pihak asing dalam pemungutan suara di wilayah Arab.

Penyelidikan tersebut masih berlangsung. Namun, kepala Shin Bet dan jaksa agung Israel menyatakan bahwa bukti yang ada tidak menunjukkan adanya kecurangan dalam skala yang dapat mengubah hasil pemilu secara signifikan.

Eisenkot menanggapi pernyataan tersebut pada Minggu dengan mengatakan, “Bagi saya, persatuan bukanlah alat tawar-menawar politik ataupun sekadar siasat kosong, melainkan nilai tertinggi yang mencerminkan kemitraan sejati.”

Ia juga menyerukan kepada anggota Partai Likud di bawah pimpinan Netanyahu untuk mendukung pemerintahan di bawah kepemimpinannya.

(bbn)

No more pages