Adapun berdasarkan paparan kinerja sembilan bulan 2026, PGEO membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$126,6 juta (Rp2,3 triliun), meningkat 21,45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$104,2 juta (Rp1,89 triliun).
Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan kenaikan pendapatan sebesar 10,46% secara tahunan menjadi US$352,2 juta (Rp6,39 triliun). Sementara itu, EBITDA perseroan meningkat 15,58% menjadi US$287,7 juta (Rp5,22 triliun).
Dari sisi arus kas, PGEO mencatatkan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar US$200,4 juta (Rp3,64 triliun) sepanjang Januari-September 2026. Adapun free cash flow mencapai US$129,9 juta (Rp2,36 triliun).
Meski demikian, posisi kas perseroan sedikit menurun dibandingkan akhir 2025 yang sebesar US$718,5 juta (Rp13,04 triliun). Per 30 September 2026, kas dan setara kas PGEO tercatat US$713,6 juta (Rp12,95 triliun).
Kebutuhan ekspansi juga menjadi salah satu pertimbangan dalam kebijakan dividen. Frans mengatakan perseroan perlu menjaga keseimbangan antara memberikan imbal hasil kepada investor dan mendanai pengembangan bisnis.
Perseroan, lanjut dia, turut mencari alternatif pembiayaan yang optimal agar keekonomian proyek-proyek pengembangan panas bumi tetap terjaga.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, PGEO merealisasikan belanja modal sebesar US$43,05 juta (Rp781,53 miliar), turun 15,05% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$50,67 juta (Rp919,15 miliar). Belanja modal tersebut terdiri atas capex ekspansi sebesar US$23,27 juta (Rp422,12 miliar) dan pemeliharaan sebesar US$19,78 juta (Rp358,81 miliar).
(fik/ell)




























