Pemerintahan yang terbelah antara kedua partai juga berpotensi memberikan dorongan tidak langsung bagi pasar saham dengan membatasi ekspansi fiskal dan menekan imbal hasil obligasi AS, menurut Lombard Odier.
Pemungutan suara ini berlangsung pada saat yang sensitif bagi perdagangan saham AI di Asia. Investor saat ini sudah menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari tingginya biaya pinjaman, pertanyaan mengenai berapa lama lonjakan permintaan chip memori dapat bertahan, hingga keraguan apakah belanja infrastruktur AI yang dibiayai utang akan menghasilkan imbal hasil yang memadai.
Pemilu paruh waktu menambah satu lagi sumber ketidakpastian, seiring isu-isu seperti keamanan AI, pembangunan pusat data, dan biaya listrik semakin menjadi perdebatan politik di Washington.
“Jika Partai Demokrat menyapu bersih kemenangan dalam pemilu pekan depan, isu-isu tersebut bisa menjadi semakin mendesak dan kekhawatiran itu dapat memicu kembali aksi jual saham AI,” kata Phillip Wool, kepala manajemen portofolio di Rayliant Global Advisors. “Segala sesuatu yang mengancam industri AI akan sangat membebani sentimen terhadap saham-saham di Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan mungkin, dalam tingkat yang lebih rendah, China.”
Meski demikian, Presiden Donald Trump masih memiliki hak veto serta kewenangan luas dalam kebijakan tarif, imigrasi, dan luar negeri. Hal ini membatasi kemampuan Partai Demokrat untuk mengubah agenda kebijakan yang telah ditetapkan Trump.
Berikut sejumlah isu utama yang menjadi perhatian pelaku pasar:
Ujian Kebijakan AI
Asia memiliki kepentingan lebih besar dalam lonjakan investasi AI dibandingkan sebagian besar kawasan lain. Korea Selatan dan Taiwan memasok banyak semikonduktor canggih serta perangkat keras penting lainnya yang menopang pembangunan pusat data di AS.
Ketergantungan tersebut dapat membuat kawasan ini rentan jika Kongres yang dikuasai Partai Demokrat meningkatkan pengawasan terhadap industri AI. Sejumlah isu yang berpotensi menjadi fokus antara lain kewajiban pengembang AI untuk menanggung porsi biaya penyediaan listrik bagi pusat data yang lebih besar serta peningkatan pengawasan Kongres terhadap kebijakan perdagangan dan teknologi.
Kebijakan yang meningkatkan biaya infrastruktur dan listrik atau mempersulit pembangunan pusat data dapat memperbesar kekhawatiran investor terhadap besarnya dana yang digelontorkan untuk AI serta meningkatnya beban utang untuk membiayai ekspansi tersebut.
“Potensi perubahan dalam pembangunan infrastruktur AI di AS, pengembangan pusat data, atau pembatasan teknologi pada akhirnya dapat merambat ke rantai pasok Asia,” kata Afdhal Rahman, direktur eksekutif Wealth Advisory di Oversea-Chinese Banking Corp. Hal ini terjadi ketika sebagian dana investor mulai beralih dari saham AI ke sektor lain seperti keuangan, kesehatan, dan utilitas.
Meski demikian, investor secara umum memperkirakan permintaan global terhadap daya komputasi dan infrastruktur AI akan tetap kuat, terlepas dari partai mana yang menguasai Kongres.
Produsen chip Korea Selatan dan Taiwan tetap menjadi bagian penting dari investasi struktural tersebut sehingga dinilai berada dalam posisi yang cukup kuat untuk menghadapi berbagai kemungkinan hasil pemilu, kata Pruksa Iamthongthong, kepala ekuitas Asia-Pasifik di Aberdeen Investments.
Saham yang perlu dicermati: Taiwan Semiconductor Manufacturing Co., Samsung Electronics Co., SK Hynix Inc., Hon Hai Precision Industry Co., Quanta Computer Inc., Advantest Corp., Delta Electronics Inc.
Perdagangan dan Energi Bersih
Pemilu ini juga berpotensi berdampak terhadap saham-saham China, meskipun investor melihat hasil yang lebih sulit dipastikan.
Kemenangan Partai Demokrat dan dukungan partai tersebut yang lebih besar terhadap energi bersih dapat memperbaiki sentimen terhadap perusahaan China di sektor panel surya, baterai, dan kendaraan listrik, menurut Wool dari Rayliant.
Jika Partai Demokrat mengambil alih kendali Kongres, pembatasan terhadap agenda domestik Trump dapat mendorong pemerintahannya untuk lebih mengandalkan kewenangan eksekutif. Kondisi ini membuat perdagangan tetap menjadi salah satu bidang yang memberikan ruang gerak cukup besar bagi Gedung Putih.
“Tarif dan perdagangan merupakan saluran dengan sensitivitas pasar paling tinggi,” kata Wei Li, kepala investasi multi-aset di BNP Paribas Securities (China). Dia melihat adanya peluang peningkatan ketegangan perdagangan di bawah pemerintahan yang terbelah.
Sementara itu, sejumlah pihak memperkirakan pemilu paruh waktu hanya akan berdampak terbatas terhadap saham China karena arah umum kebijakan AS terhadap Beijing mendapat dukungan dari kedua partai.
Pasar ekspor China yang semakin terdiversifikasi serta peningkatan kemampuan teknologinya juga memberikan perlindungan terhadap perubahan kebijakan di Washington, kata June Chua, kepala ekuitas Asia di Manulife Investment Management.
Saham yang perlu dicermati: Contemporary Amperex Technology Co. Ltd., BYD Co., Sungrow Power Supply Co., LONGi Green Energy Technology Co., Jinko Solar Co.
Jepang dan Geopolitik
Bagi investor Jepang, pemilu ini juga dilihat dari perspektif geopolitik dan harga minyak.
Sejumlah investor, termasuk Kazuyuki Muramatsu, kepala manajemen investasi di Nagomi Capital, bersiap menghadapi kemungkinan berakhirnya pola historis penguatan saham setelah pemilu paruh waktu AS.
Trump telah mengisyaratkan bahwa pasukan AS dapat kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemungutan suara. Hal ini meningkatkan risiko lonjakan harga energi berikutnya.
Potensi kenaikan harga minyak menuju US$120 per barel “akan mengesampingkan ekspektasi bahwa perkembangan positif dapat terjadi setelah pemilu paruh waktu,” kata Muramatsu.
Sementara itu, kemenangan Partai Republik dalam mempertahankan kendali Kongres dapat menguntungkan perusahaan pertahanan Jepang dan produsen industri yang berorientasi pada pasar AS karena prioritas belanja pemerintah saat ini kemungkinan tetap dipertahankan, menurut Li dari BNP Paribas.
Mata Uang dan Obligasi
Dampak pemilu ini berpotensi merambat ke pasar Asia jauh melampaui sektor saham.
Reli dolar AS belakangan ini dapat berbalik jika Partai Demokrat meraih kemenangan besar, disertai meningkatnya indikasi kompromi antara AS dan Iran serta pengawasan lebih ketat terhadap belanja AI dan pembangunan pusat data. Hal tersebut disampaikan Richard Franulovich, kepala strategi valuta asing di Westpac Banking Corp.
Dia mengatakan persaingan pemilu yang sangat ketat hingga berujung pada penghitungan ulang atau gugatan hukum juga dapat mengikis kepercayaan terhadap institusi AS.
Kendali Partai Demokrat atas Kongres kemungkinan akan membatasi ruang bagi ekspansi fiskal lebih lanjut dan meredakan tekanan kenaikan suku bunga AS. Kondisi ini dapat sedikit membebani dolar AS, menurut Carol Kong, ahli strategi di Commonwealth Bank of Australia.
Kekalahan Partai Republik yang lebih besar dari perkiraan dapat memicu aksi jual dolar yang lebih tajam dan membuat arah kebijakan Trump semakin sulit diprediksi. Situasi tersebut berpotensi meningkatkan daya tarik yen Jepang sebagai alternatif aset lindung nilai (safe haven).
Imbal hasil obligasi AS yang lebih rendah dan prospek fiskal yang lebih terkendali di bawah pemerintahan terbelah dapat menguntungkan eksportir Asia serta obligasi berdenominasi mata uang lokal, kata Li dari BNP Paribas.
(bbn)





























