Pernyataan tersebut menegaskan meningkatnya status siaga Iran di tengah persiapan menghadapi kemungkinan dimulainya kembali serangan AS-Israel. Situasi ini berlangsung ketika upaya diplomatik kembali digencarkan untuk mengakhiri konflik, sekaligus menunjukkan tekad Teheran untuk meningkatkan eskalasi respons jika kembali diserang.
Pernyataan Khamenei tidak menyebutkan kapan atau di mana pertemuan berlangsung. Namun, ini menjadi kali pertama dia diketahui mengumpulkan para petinggi militernya sejak menjabat sebagai kepala negara. Dia belum terlihat di hadapan publik sejak AS dan Israel memulai perang pada Februari, dan hanya segelintir pejabat Iran yang menyatakan telah berbicara dengannya sejak saat itu.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pemerintah AS belum mengambil keputusan untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran dan Presiden Donald Trump lebih mengutamakan penyelesaian melalui jalur diplomatik. Namun, dia menambahkan bahwa AS tetap memiliki kemampuan militer untuk mencapai tujuan apa pun yang diputuskan Trump.
“Apa yang pada dasarnya dikatakan rezim Iran adalah bahwa jika mereka tidak mendapatkan apa yang diinginkan, mereka bukan hanya akan meledakkan kapal, tetapi juga menghancurkan infrastruktur energi negara-negara tetangga di seluruh kawasan,” kata Rubio dalam konferensi pers setelah pertemuan para menteri luar negeri Kelompok 20 (G20) di Atlanta.
“Coba pikirkan hal itu, karena menurut saya kita sering mengabaikannya seolah-olah itu merupakan perilaku yang normal. Itu bukan perilaku normal. Sama sekali bukan.”
Usulan Terkait Selat Hormuz
Upaya diplomasi terus berlangsung pada Sabtu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan delegasi Iran berada di Qatar untuk melakukan pembicaraan dengan para mediator di negara tersebut.
Iran mengusulkan percepatan pelaksanaan proposal sebelumnya untuk membuka kembali Selat Hormuz, dari tujuh hari menjadi dua hari, kata Araghchi dalam wawancara dengan Al Jazeera.
“Persyaratan kami mencakup pencabutan sanksi yang diberlakukan setelah nota kesepahaman Islamabad dan pengurangan jumlah pasukan AS di kawasan,” kata Araghchi, merujuk pada kesepakatan gencatan senjata Juni yang kemudian gagal dipertahankan.
“Kami menuntut pemulihan pengecualian sanksi untuk minyak serta pembebasan seluruh dana kami yang dibekukan, termasuk yang disimpan di Qatar.”
Para mediator juga telah menyampaikan sejumlah proposal terkait program nuklir Iran, kata sang menteri, tanpa memberikan perincian lebih lanjut.
Araghchi mengakui adanya surat terbaru dari Wakil Presiden AS JD Vance kepada Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran Mohsen Rezaee. Dia mengatakan, “Upaya pihak Amerika untuk membuka pintu bagi dialog dan pemahaman yang lebih luas dipandang sebagai langkah positif.”
AS telah memperingatkan negara-negara Teluk agar bersiap menghadapi kemungkinan serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu pada Selasa, menurut laporan Wall Street Journal pekan ini. Komando Pusat AS (CENTCOM) juga telah memberikan pengarahan kepada Trump mengenai sejumlah opsi militer potensial pada Kamis, Fox melaporkan.
“Setiap kali indikasi tindakan permusuhan musuh telah terkonfirmasi, angkatan bersenjata tidak akan menunggu hingga serangan dimulai untuk menentukan waktu dan cara memberikan respons,” kata Ali Abdollahi, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, setelah pertemuan dengan Khamenei, menurut laporan kantor berita pemerintah Islamic Republic News Agency.
(bbn)



























