Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengatakan capaian tersebut mencerminkan upaya perusahaan menjaga kinerja bisnis dan kesehatan finansial di tengah kebutuhan pengembangan infrastruktur serta peningkatan kualitas layanan jalan tol.
“Kinerja keuangan yang sehat menjadi fondasi bagi Jasa Marga untuk menjalankan strategi bisnis secara berkelanjutan. Kami memastikan pengelolaan operasional berjalan optimal, sekaligus menjaga kapasitas investasi untuk mengembangkan jaringan jalan tol, meningkatkan standar layanan melalui pemanfaatan teknologi. Dengan demikian, pertumbuhan Perseroan dapat berjalan selaras dengan penciptaan nilai bagi pengguna jalan dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Rivan.
Jasa Marga Perkuat Jaringan dan Konektivitas Jalan Tol
Dari sisi operasional, volume transaksi kendaraan di jalan tol yang dikelola Jasa Marga telah melampaui 981 juta kendaraan hingga kuartal III 2026. Lalu lintas harian rata-rata atau LHR tercatat sekitar 3,6 juta kendaraan per hari.
Capaian tersebut memperkuat posisi Jasa Marga sebagai salah satu pemain utama industri jalan tol nasional. Hingga periode pelaporan, perseroan mengoperasikan 1.294 kilometer jalan tol dari total konsesi sepanjang 1.736 kilometer.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 42% dari total panjang jalan tol yang beroperasi di Indonesia. Perusahaan juga terus mengembangkan jaringan untuk memperluas akses antardaerah, meningkatkan konektivitas, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru.
Memasuki Oktober 2026, Jasa Marga mulai mengoperasikan Jalan Tol Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi Segmen Gending-Paiton sepanjang 24 kilometer dengan tarif. Beroperasinya ruas tersebut menambah panjang jalan tol yang dikelola perseroan menjadi 1.318 kilometer.
Selain ruas tersebut, perusahaan mempercepat penyelesaian sejumlah proyek strategis. Beberapa di antaranya adalah Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan, Jalan Tol Akses Patimban, Jalan Tol Yogyakarta-Bawen, serta Jalan Tol Solo-Yogyakarta-YIA Kulon Progo.
Rivan menyampaikan pembangunan infrastruktur jalan tol tidak hanya diarahkan untuk menambah panjang jaringan. Menurut dia, pengembangan tersebut juga harus memberikan dampak langsung terhadap mobilitas masyarakat dan aktivitas perekonomian.
“Bagi Jasa Marga, Pembangunan infrastruktur jalan tol tidak hanya berorientasi pada penambahan jaringan, tetapi juga pada penciptaan konektivitas yang berdampak langsung bagi masyarakat dan perekonomian. Keterhubungan antarwilayah ini mendukung kelancaran mobilitas masyarakat dan distribusi barang, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi di wilayah yang dilalui,” jelas Rivan.
Transformasi Layanan dan Penguatan Keselamatan
Sejalan dengan pengembangan jaringan, Jasa Marga melakukan transformasi dari penyedia infrastruktur menjadi pengelola ekosistem layanan jalan tol yang terintegrasi. Transformasi tersebut dijalankan melalui tiga pilar, yakni Protect the Journey, Support the Journey, dan Inform the Journey.
Melalui pilar Protect the Journey, perusahaan memperkuat pemeliharaan dan preservasi infrastruktur berbasis teknologi. Upaya tersebut didukung armada inspeksi Hawkeye 2000, sistem pelaporan digital Tollroad Real Time Operation Oversight Performance System (TROOPS), serta Jasamarga Integrated Maintenance Management System (JIMMS).
Sementara itu, pilar Support the Journey diarahkan untuk meningkatkan kenyamanan pengguna jalan melalui pembaruan fasilitas Travoy Rest. Adapun pilar Inform the Journey berfokus pada penyediaan informasi dan pengendalian lalu lintas secara terpusat melalui Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC).
Informasi perjalanan kemudian disampaikan kepada pelanggan melalui Call Center 133 dan aplikasi Travoy. Aplikasi tersebut dapat diakses melalui App Store maupun Google Play Store untuk membantu pengguna memperoleh informasi perjalanan jalan tol.
Perseroan juga mendukung kebijakan pemerintah dalam mewujudkan Zero Over Dimension Over Loading (ODOL) pada 2027. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyediakan fasilitas Weigh In Motion (WIM) untuk mendeteksi beban kendaraan angkutan barang dengan memanfaatkan teknologi.
Data dari perangkat WIM diintegrasikan dengan sistem Bukti Lulus Uji Elektronik (BLUe) milik Kementerian Perhubungan dan Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) Korlantas Polri. Integrasi tersebut ditujukan untuk mendukung pengawasan serta proses penindakan sesuai kewenangan masing-masing instansi.
Di sisi lain, Jasa Marga mulai mempersiapkan operasional untuk menghadapi peningkatan mobilitas pada periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Persiapan dilakukan dengan memastikan pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM), pemeliharaan infrastruktur, pemantauan kondisi lalu lintas, serta kesiapan petugas di lapangan.
Perusahaan juga memperkuat koordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk mendukung kelancaran perjalanan masyarakat. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan, keselamatan, dan kenyamanan pengguna jalan selama periode libur akhir tahun.
Rivan mengatakan perusahaan akan menjaga momentum pertumbuhan dengan memperkuat pengelolaan keuangan dan operasional. Menurut dia, margin EBITDA yang solid, pengelolaan liabilitas secara pruden, serta volume lalu lintas harian menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja perseroan hingga akhir tahun.
“Dengan margin EBITDA yang solid, manajemen liabilitas yang pruden, serta keandalan volume lalu lintas harian sebagai sumber arus kas utama, Perseroan berada dalam lintasan pertumbuhan yang tepat untuk menutup tahun 2026 dengan hasil terbaik. Jasa Marga berkomitmen memastikan pengelolaan operasional berjalan optimal dengan terus berinovasi, menjaga kualitas layanan, memperkuat tata kelola perusahaan, serta menghadirkan nilai tambah nyata yang dapat dirasakan oleh investor, mitra bisnis, dan jutaan pelanggan di setiap kilometer perjalanan yang kami layani,” tutup Rivan.
(tim)































