Selain meningkat secara nominal, margin laba kotor WIKA juga menguat menjadi 12,11%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan margin pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 8,34%.
Corporate Secretary WIKA Ngatemin mengatakan, peningkatan penjualan yang diikuti penguatan margin menunjukkan perkembangan strategi bisnis perseroan dalam memperbaiki kinerja operasional dan memperkuat posisi pasar.
“Peningkatan penjualan yang diiringi penguatan margin profitabilitas mencerminkan keberhasilan strategi bisnis Perseroan dalam mendorong penguatan pasar serta operational yang lean dan excellence. Ke depan Perseroan akan terus menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat profitabilitas secara berkelanjutan guna menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan”, ujar Ngatemin
Transformasi WIKA Dorong Perbaikan Profitabilitas
Perbaikan kinerja juga tercermin dari laba usaha WIKA yang mencapai Rp754,33 miliar hingga kuartal III 2026. Capaian tersebut meningkat 162,1% yoy, menunjukkan penguatan hasil dari kegiatan operasional utama perusahaan.
Sementara itu, EBITDA dari operasi inti atau core operation, di luar penyertaan pada investasi kereta, tercatat sebesar Rp957,84 miliar. Nilai tersebut meningkat 148,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan laba usaha dan EBITDA inti menunjukkan kontribusi dari aktivitas bisnis utama semakin menguat. Hal ini menjadi salah satu indikator penting dalam proses penyehatan perusahaan, terutama ketika WIKA berupaya meningkatkan kualitas pendapatan dan mengurangi tekanan terhadap kinerja keuangan.
Di sisi biaya, penerapan lean management juga mulai memberikan hasil. Perseroan mencatat Operating Expense Ratio atau rasio beban operasional turun menjadi 5,34% pada kuartal III 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pengendalian biaya tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi operasional. Dengan menekan beban operasional, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk memperkuat margin dan menjaga profitabilitas dari proyek-proyek yang dikerjakan.
Peningkatan kontrak baru sebesar 57,9% menjadi Rp9,78 triliun juga menjadi penopang prospek pendapatan ke depan. Namun, strategi WIKA tidak semata-mata mengejar pertumbuhan nilai kontrak, melainkan memastikan proyek yang diperoleh memiliki skema pembayaran dan tingkat keuntungan yang memadai.
Pendekatan tersebut menjadi penting bagi perusahaan konstruksi yang membutuhkan modal kerja besar dalam pelaksanaan proyek. Kepastian uang muka dan pembayaran progres bulanan diharapkan membantu menjaga kelancaran arus kas sekaligus mengurangi risiko pembiayaan selama masa pengerjaan.
Dengan seleksi proyek yang lebih disiplin, WIKA berupaya menghindari kontrak yang berpotensi membebani keuangan perusahaan. Strategi ini juga diarahkan agar pertumbuhan penjualan dapat diikuti peningkatan kualitas laba, bukan hanya kenaikan volume pekerjaan.
WIKA Turunkan Utang Rp1,42 Triliun
Di luar perbaikan operasional, WIKA terus menjalankan langkah penguatan fundamental keuangan. Hingga kuartal III 2026, total utang perseroan tercatat turun Rp1,42 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut terdiri atas pengurangan utang berbunga sebesar Rp505 miliar dan utang usaha sebesar Rp914,54 miliar. Perkembangan ini mencerminkan upaya perusahaan dalam mengendalikan kewajiban sekaligus memperbaiki struktur keuangan.
Pengurangan utang menjadi salah satu fokus penting dalam proses penyehatan WIKA. Pasalnya, beban kewajiban keuangan dapat membatasi ruang perusahaan untuk menjalankan kegiatan operasional dan mengembangkan bisnis baru.
Meski demikian, perseroan menilai upaya transformasi yang telah dilakukan masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Dukungan pemegang saham, kreditur, regulator, dan publik dinilai diperlukan untuk memperkuat kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh.
WIKA menyebut kebutuhan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan restrukturisasi komprehensif, pengembalian modal perseroan, serta divestasi pada proyek penugasan kereta cepat. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi beban bunga dan kerugian yang timbul dari penugasan tersebut.
Pengembalian modal juga dinilai dapat memberikan tambahan ruang likuiditas bagi perseroan. Dana yang diterima nantinya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kewajiban pembayaran kepada kreditur, termasuk perbankan dan pemegang surat utang.
Kreditur pemegang surat utang WIKA mencakup berbagai kelompok investor. Perseroan mencatat terdapat 206 investor perorangan, 88 lembaga dana pensiun, serta 154 lembaga keuangan yang menjadi pemegang obligasi dan sukuk.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa proses penguatan keuangan WIKA berkaitan dengan kepentingan beragam pihak. Karena itu, restrukturisasi dan pengelolaan kewajiban menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan perusahaan sekaligus memenuhi komitmen kepada para kreditur.
Di tengah proses tersebut, peningkatan penjualan, kontrak baru, dan profitabilitas memberikan indikasi perbaikan pada bisnis inti WIKA. Namun, keberlanjutan pemulihan tetap bergantung pada kemampuan perseroan menjaga disiplin dalam memperoleh proyek, mengendalikan biaya, serta menuntaskan agenda restrukturisasi keuangan.
WIKA kini berupaya menjaga momentum pertumbuhan operasional sembari memperkuat struktur permodalan. Perseroan menargetkan transformasi yang telah berjalan dapat menghasilkan kinerja lebih sehat dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan nilai bagi pemegang saham serta seluruh pemangku kepentingan.
(tim)






























