Terlebih lagi, terbatasnya pelemahan IHSG tak lepas dari kenaikan dan reboundnya sejumlah saham big caps. Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Jumat (30/10/2026).
- PT Astra International Tbk (ASII) menyumbang 4,48 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang 3,66 poin
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menyumbang 2,64 poin
- PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) menyumbang 2,54 poin
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menyumbang 1,85 poin
- PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO) menyumbang 1,82 poin
- PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) menyumbang 1,57 poin
- PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) menyumbang 1,57 poin
- PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menyumbang 1,23 poin
- PT XLSmart Tbk (EXCL) menyumbang 1,17 poin
Namun, rebound IHSG dibatasi turunnya banyak saham.
Diantaranya sebagai berikut.
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengurangi 6,59 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengurangi 5,27 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengurangi 4,69 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengurangi 4,02 poin
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengurangi 3,57 poin
Alhasil, IHSG bergabung dengan Bursa Saham Asia lainnya yang juga tertekan. KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), Shenzhen Comp. (China), Weighted Index (Taiwan), NIKKEI 225 (Jepang), SETI (Thailand), Shanghai Composite (China), CSI 300 (China), TOPIX (Jepang), PSEi (Filipina), dan Straits Times (Singapura), yang ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Sentimen Perdagangan Hari Ini
IHSG ditutup melemah 0,8% di level 5.057,05 pada perdagangan Jumat (30/10/2026). Indeks Komposit pun sempat melemah hingga level 4.979, sebelum akhirnya berbalik ditutup di atas level psikologis 5,000. Investor menanti dengan cermat pemilu midterm di AS (3/11/2026). Terlebih dari dalam negeri akan dirilis indeks manufacturing PMI, neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi 3Q26, cadangan devisa, serta indeks harga rumah.
Dengan segala sentimen tersebut, secara teknikal diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 4.900–5.000.
“Jika IHSG bertahan di atas level 5.000, maka IHSG berpeluang akan bergerak sideways pada kisaran 5.000–5.200 pada pekan depan,” analisis Phintraco Sekuritas.
Lebih lanjut, bagi pasar saham Indonesia, tekanan yang lebih signifikan justru berasal dari ketidakpastian klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI, serta berlanjutnya arus keluar dana asing.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebutkan, peringatan MSCI sebagai guncangan jangka pendek dan menilai pemulihan pasar tetap memungkinkan apabila persoalan transparansi kepemilikan saham dan aksesibilitas pasar dapat dibenahi. Namun, selama belum terdapat kepastian mengenai hasil evaluasi MSCI, para pelaku investor berpotensi tetap menerapkan strategi defensif.
“Pelaku pasar juga mencermati rencana BEI mengecualikan saham dengan High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026,” papar Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam catatan terbarunya per Jumat (30/10/2026).
Kendati demikian, terdapat faktor buffer dimana dari sisi makroekonomi, penguatan nilai tukar rupiah di posisi Rp18.127/US$ pasca keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan, serta stabilnya harga komoditas minyak, menjadi penahan agar pelemahan Indeks Komposit tidak terlalu signifikan.
(fad)



























