Padahal, peluang pasar masih terbuka dan permintaan memungkinkan para pedagang meningkatkan volume pembelian hasil panen. Kondisi tersebut mendorong Antoni menginisiasi pembentukan klaster usaha yang kini beranggotakan 22 orang, dengan mayoritas anggota merupakan pedagang kecil.
Melalui kelompok tersebut, para anggota berupaya memperkuat kapasitas usaha secara bersama-sama. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memanfaatkan akses pembiayaan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, termasuk melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Teman-teman pedagang kecil sebenarnya punya pasar dan kemauan untuk berkembang, tetapi sering terkendala modal. Mereka ingin membeli jeruk lebih banyak dari petani, tetapi kemampuan modalnya terbatas. Karena itu, kami mencoba membentuk klaster agar bisa berkembang bersama dan memanfaatkan akses pembiayaan dari BRI. Alhamdulillah, setelah mendapatkan dukungan modal, kemampuan membeli dan menjual mereka mulai meningkat,” ujar Antoni.
Dukungan pembiayaan tersebut membantu anggota klaster meningkatkan kemampuan membeli hasil panen petani. Dengan modal yang lebih memadai, pedagang dapat menambah volume pembelian sekaligus memperluas kegiatan distribusi.
Perubahan kapasitas usaha terlihat dari sarana transportasi yang digunakan para pedagang. Dalam kurun waktu sekitar empat hingga lima tahun, sejumlah anggota yang sebelumnya mengandalkan sepeda motor untuk mengangkut jeruk mulai beralih menggunakan kendaraan roda tiga.
Peralihan tersebut memungkinkan mereka membawa lebih banyak hasil panen dalam satu kali pengangkutan. Kapasitas distribusi yang meningkat kemudian membuka peluang bagi pedagang untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Pembiayaan BRI Perluas Distribusi Jeruk Semboro
Dampak penguatan modal juga terlihat pada perkembangan jaringan perdagangan Antoni. Dari skala penjualan yang semula terbatas pada beberapa kuintal, kini distribusi jeruk Semboro telah menjangkau Yogyakarta, Cirebon, Pangkalpinang, Jakarta, Lombok, hingga Papua.
Pada periode panen raya, agen yang bekerja sama dengannya mampu mengirimkan dua hingga tiga truk jeruk setiap hari. Dengan kapasitas sekitar 6,5 ton hingga 7 ton per truk, volume pengiriman dapat mencapai belasan ton dalam sehari.
Perluasan pasar tersebut tidak hanya memperbesar skala perdagangan Antoni, tetapi juga membuka kesempatan bagi pedagang kecil untuk terlibat dalam rantai distribusi yang lebih luas. Peningkatan pembelian dari petani turut membantu memperkuat aktivitas ekonomi di sentra produksi.
Selain pembiayaan, para anggota klaster memperoleh dukungan sarana usaha berupa timbangan, peti buah, dan keranjang bambu. Perlengkapan tersebut menunjang kegiatan penanganan hasil panen agar proses perdagangan dan distribusi berjalan lebih baik.
Penguatan kapasitas juga dilakukan melalui pembinaan dalam program Desa BRILiaN. Para anggota klaster mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai kegiatan bazar untuk memperkenalkan jeruk Semboro kepada konsumen dan calon mitra pemasaran.
Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan usaha tidak hanya bergantung pada ketersediaan modal. Sarana pendukung, peningkatan kemampuan pengelolaan, serta akses pemasaran turut menentukan kemampuan pelaku usaha dalam meningkatkan skala bisnis.
Antoni mengatakan, perubahan yang dialami para anggota klaster terlihat dari meningkatnya kemampuan mereka membeli dan menjual jeruk. Pertumbuhan tersebut juga membuat jaringan pemasaran semakin luas dibandingkan ketika usaha masih berjalan secara individual dengan kapasitas terbatas.
“Dulu kami benar-benar hanya pedagang kecil, membawa beberapa kuintal saja. Setelah bersama-sama dengan BRI, kami bisa berkembang dan mengirim ke berbagai wilayah, dari Yogyakarta, Cirebon, Pangkalpinang, Jakarta, Lombok sampai Papua. Jadi yang kami rasakan bukan hanya tambahan modal, tetapi kemampuan usaha kami juga meningkat. Pasar semakin luas dan jumlah barang yang bisa kami kirim juga semakin besar. Ketika usaha berkembang, petani bisa menjual hasil panennya, pedagang bisa membeli lebih banyak, dan masyarakat juga mendapatkan kesempatan bekerja,” tutur Antoni.
Pertumbuhan perdagangan jeruk Semboro turut memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja di lingkungan sekitar. Peningkatan volume usaha menciptakan kebutuhan pekerja dalam berbagai tahapan, mulai dari pemetikan buah, penanganan hasil panen, pengemasan, hingga pengangkutan dan distribusi.
Pedagang pengumpul umumnya melibatkan satu hingga dua pekerja untuk membantu kegiatan operasional. Sementara itu, distributor membutuhkan tenaga kerja lebih banyak karena harus menangani volume komoditas yang lebih besar.
Kondisi tersebut membuat perkembangan usaha Antoni dan anggota klaster tidak hanya memberikan manfaat bagi pelaku perdagangan. Petani memperoleh peluang untuk menjual hasil panen dalam jumlah lebih besar, sedangkan masyarakat sekitar mendapatkan kesempatan kerja dari meningkatnya aktivitas ekonomi.
“Kalau pedagang pengumpul biasanya dibantu satu atau dua pekerja. Kalau distributor, tenaga yang dibutuhkan lebih banyak karena barang yang ditangani juga lebih besar. Jadi ketika usaha berkembang, yang merasakan manfaat bukan hanya kami. Petani bisa menjual hasil panennya, pedagang bisa membeli lebih banyak, dan ada masyarakat yang mendapatkan pekerjaan. Dari situ perekonomian benar-benar berputar,” katanya.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi bagian dari upaya perseroan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Menurut dia, dukungan kepada pelaku usaha perlu dilakukan melalui pembiayaan yang disertai pemberdayaan agar kapasitas bisnis dapat meningkat secara berkelanjutan.
“BRI meyakini UMKM memiliki peran penting dalam menggerakkan ekonomi daerah. Karena itu, dukungan kepada pelaku usaha tidak berhenti pada akses pembiayaan, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas, memperluas pasar, dan membangun ekosistem usaha. Kisah Antoni menunjukkan bahwa ketika pembiayaan dan pendampingan berjalan bersama, usaha dari daerah dapat tumbuh, menciptakan lapangan kerja, sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya,” ujar Dhanny.
Pengalaman Antoni dan klaster pedagang jeruk Semboro menunjukkan pentingnya keterhubungan antara akses modal, pendampingan, dan perluasan pasar dalam pengembangan UMKM. Pembiayaan memberikan ruang bagi pedagang untuk meningkatkan kapasitas pembelian, sementara dukungan sarana dan pemasaran membantu memperkuat kegiatan usaha.
(tim)































