Untuk diketahui, ekspor Indonesia masih ditopang oleh sektor non-migas seperti minyak sawit mentah (CPO), besi dan baja, serta batu bara. Ekspor non-migas Agustus mencatat kenaikan sebesar 7,32% yoy, sedangkan ekspor migas terkontraksi 5,1%.
Pertumbuhan ekspor itu disebabkan adanya kenaikan harga komoditas global, bukan meningkatnya volume ekspor. Kinerja ekspor migas juga diperkirakan tetap lebih rendah lantaran Indonesia mulai memangkas sebagian ekspor gas alam, salah satunya ke Singapura.
Padahal, Singapura merupakan salah satu negara tujuan ekspor migas terbesar bagi Indonesia. Berdasarkan data BPS, pada Agustus nilai ekspor migas ke Singapura tercatat US$329,7 juta, setara dengan 33,23% dari total ekspor migas ke seluruh negara tujuan yang senilai US$992,16 juta. Sementara, ke China tercatat US$202,08 juta, dan ke Malaysia US$169,59 juta.
Sebagai catatan, Indonesia memangkas ekspor gas pipa ke Singapura sekitar 31 miliar unit termal Inggris sejak akhir pekan lalu. Langkah ini ditempuh pemerintah untuk mengamankan pasokan dalam negeri di tengah dinamika geopolitik.
(dsp/aji)






























