Penyebab perlambatan kuartal terakhir tahun ini diperkirakan datang dari tekanan daya beli yang tergambar dari angka inflasi. Dalam survei yang sama, inflasi Indonesia kuartal IV-2026 diproyeksi bisa menyentuh 3,4% yoy.
Angka ini memang tidak berubah dari survei bulan lalu, tetapi lebih tinggi daripada inflasi kuartal III-2026 sebesar 3,24%. Dengan proyeksi itu, praktis inflasi semakin mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI) yakni 1,5-3,5%.
Kombinasi antara pertumbuhan yang melambat dan inflasi yang relatif tinggi berpotensi menambah tekanan terhadap daya beli rumah tangga. Jika kenaikan harga tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan riil, maka konsumsi masyarakat sebagai salah satu motor utama perekonomi bisa kehilangan pijakannya.
Di sisi lain, tekanan nilai tukar rupiah dan ekspektasi kenaikan suku bunga BI juga bisa menambah tantangan bagi aktivitas ekonomi. Bloomberg memperkirakan BI Rate akan meningkat jadi 6% pada akhir 2026, dari proyeksi sebelumnya 5,75%. Suku bunga tersebut diperkirakan bertahan hingga kuartal III-2027.
Ekspektasi tersebut mencerminkan bahwa stabilitas rupiah dan pengendalian inflasi masih jadi pertimbangan utama kebijakan moneter. Akan tetapi, suku bunga yang lebih tinggi juga berpotensi meningkatkan biaya pinjaman, ekspansi kredit, dan membuat dunia usaha kian berhati-hati dalam mengambil keputusan investasinya.
Perlambatan di kuartal terakhir tahun ini akan menjadi perhatian pelaku pasar, sebab kuartal terakhir biasanya jadi periode penting bagi aktivitas ekonomi. Pasalnya, ada momentum peningkatan konsumsi seperti libur akhir tahun, belanja pemerintah, serta aktivitas perdagangan dan jasa yang juga sedang menggeber target pertumbuhannya.
Jika dorongan konsumsi musiman tidak cukup kuat sementara investasi swasta cenderung berhati-hati, maka pertumbuhan ekonomi akan terus bergantung pada belanja pemerintah.
Padahal mengandalkan belanja pemerintah sebagai penopang utama pertumbuhan juga punya keterbatasan, apalagi di saat ruang fiskal semakin ketat dan pemerintah harus menjaga defisit anggaran.
Sejatinya, menjaga pertumbuhan ekonomi RI di kisaran 5% juga perlu dibarengi penguatan konsumsi rumah tangga, adanya pemulihan investasi swasta, dan kepercayaan investor yang lebih kuat.
Bayang-bayang Defisit
Terpisah, Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berpotensi menembus batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Terlebih saat target penerimaan negara kuartal IV-2026 sulit tercapai, kala pemerintah tetap berencana menggenjot belanja negara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
"Hingga September 2026, defisit sudah mencapai Rp319 triliun, atau setara dengan 1,24% PDB. Sementara itu, target penerimaan negara sebesar Rp813 triliun pada kuartal IV 2026 akan sulit terwujud," kata Wijayanto kepada Bloomberg Technoz.
Padahal, pemerintah masih akan menggelontorkan belanja hingga Rp1.300 triliun di kuartal terakhir tahun ini, demi mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
"Dengan situasi harga minyak yang terus tinggi dan rupiah yang terus melemah, maka ada potensi cukup moderat bahwa defisit akan melebihi threshold 3% PDB," ujar Wijayanto.
(dsp/aji)




























