Selain itu, Destry menyebut bahwa pasar modal di Amerika Serikat saat ini sudah didominasi oleh teknologi yang terus mencatatkan kenaikan harga, yang juga memicu kekhawatiran mengenai kapan kenaikan akan berakhir.
Tak cuma Amerika Serikat, Destry mengungkapkan bahwa investor asing tersebut juga ragu menanamkan modalnya ke Eropa. Terlebih dengan rasio utang yang cukup tinggi di negara-negara Benua Biru tersebut.
“Sebagian besar di Eropa memang mereka debt ratio itu tinggi sekali, dan budgetnya mereka juga defisitnya lebar sekali. Jadi buat mereka yang aman memang masih di Asia, tapi Asianya dimana? Dia prefer di Indonesia,” katanya.
Oleh karenanya Destry menyebut bahwa terkait dengan masalah MSCI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan juga Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus bekerja dan melakukan penanganan.
“Kita juga sudah rapat, kita juga bersama-sama berusaha untuk menenangkan para investor, para global investor,” kata Destry.
(ell)


























