Logo Bloomberg Technoz

Pasar mobil Tiongkok, yang merupakan pasar terbesar di dunia, terus menyusut. Selain itu, otoritas di sejumlah negara asing kini mulai meningkatkan upaya untuk membendung derasnya arus impor kendaraan dari Tiongkok.

"Ekspor menghadapi tantangan baru justru di saat sektor ini menjadi pendorong utama laba bagi BYD," ujar Joanna Chen, analis di Bloomberg Intelligence. 

Menurutnya, investor kini akan mencermati seberapa cepat BYD dapat meningkatkan produksi di luar negeri, serta seberapa besar tingkat profitabilitas yang bisa dicapai dari produksi di luar negeri dibandingkan dengan produksi di Tiongkok.

Beberapa perusahaan lain, terutama merek-merek asing, bahkan mengalami kondisi yang lebih buruk. Volkswagen AG, produsen mobil terbesar di Eropa, pada hari Kamis melaporkan kerugian untuk kuartal terakhir, yang sebagian besar disebabkan oleh ketergantungan mereka pada pasar Tiongkok.

Menjelang rilis laporan laba ini, sempat muncul tanda-tanda bahwa beberapa investor mulai bersikap lebih optimistis terhadap BYD, seiring dengan berkurangnya posisi jual (short selling) terhadap saham tersebut. Sepanjang tahun ini, saham BYD telah turun 28% di bursa Hong Kong, menuju penurunan tahunan terbesar sejak 2011.

Laba perusahaan naik 28% dibandingkan tahun sebelumnya, namun angka ini 17% lebih rendah dari estimasi rata-rata analis yang dihimpun oleh Bloomberg. 

Pendapatan perusahaan juga tercatat sekitar 8% di bawah perkiraan para analis. Menurut catatan riset dari para analis di Jefferies—yang memberikan peringkat “tahan” (hold) untuk saham BYD—keuntungan yang diperoleh dari skala ekonomi telah tergerus oleh tekanan biaya.

Produsen mobil yang berbasis di Shenzhen tersebut mengungkapkan bahwa hasil kinerja ini juga mencerminkan penumpukan inventaris, kerugian akibat nilai tukar di tengah terus menguatnya mata uang yuan Tiongkok, serta penurunan tajam dalam pendapatan dari investasi keuangan. 

(bbn)

No more pages